Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan

ASWATAMA

BAMBANG ASWATAMA adalah putra Resi Drona dari padepokan Sukalima, dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana/Resi Drona terbang menyeberangi lautan.

Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Yudhistira yang dikenal tak pernah berbohong.

 Aswatama merasa kecewa dengan sikap Duryodana yang terlalu membela Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Karna. Aswatama memutuskan untuk mundur dari perang Bharatayuda. Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Hastinapura, secarabersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Hastinapura.

Ia berhasil membunuh Drestadyumna (pembunuh ayahnya), Pancawala (putera Puntadewa alias Yudhistira), Banowati (Janda Duryodana) dan Srikandi. Diceritakan bahwa akhirnya ia mati oleh Bima, karena badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.
Baca SelengkapnyaASWATAMA

ASWANIKUMBA

Ditya ASWANIKUMBA adalah putra kedua Arya Kumbakarna dengan Dewi Aswani .Ia mempunyai kakak kandung bernama Kumba-Kumba. Aswanikumba tinggal bersama orang tuanya di kesatrian/negara Leburgangsa, wilayah negara Alengka.

Aswanikumba sangat sakti.

Memiliki sifat dan perwatakan; pemberani, jujur, setia dan sangat patuh. Pada saat pecah perang besar Alengka, negara Alengka diserang oleh balatentara kera Prabu Rama di bawah pimpinan Prabu Sugriwa, raja kera dari Gowa Kiskenda dalam upaya membebaskan Dewi Sinta dari sekapan Prabu Dasamuka, Aswanikumba masih kanak-kanak. Atas perintah Prabu Dasamuka, Aswanikumba maju ke medan perang karena ayahnya, Kumbakarna sedang tidur dan tak bisa dibangunkan. Aswanikumba tewas dalam pertempuran melawan Leksmana. Mati oleh panah sakti Surawijaya.
Baca Selengkapnya ASWANIKUMBA

ASMARA

SANGHYANG ASMARA adalah Dewa Kasih Sayang yang diberi tugas untuk mendamaikan suami-istri yang menghadapi hidup jauh dari kebahagiaan, sehingga menjadi suatu pasangan yang penuh dengan cinta kasih, kesetiaan dan ketenteraman hidup penuh bahagia. Ia berparas sangat tampan dan tingkah lakunya sangat menarik.

Sanghyang Asmara adalah putra ketiga Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti/Umaranti. Ia mempunyai dua orang saudara kandung bernama : Sanghyang Cakra dan Sanghyang Mahadewa. Sanghyang Asmara juga mempunyai enam orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umayi masing - masing bernama : Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu, Sanghyang Wisnu dan Bathara Kala.

Sanghyang Asmara mempunyai tempat kedudukan di Kahyangan Mayaretna. Oleh Sanghyang Manikmaya ia juga diberikan tugas memberikan pahala kepada keturunan Witaradya (sejarah para raja). Selain memiliki Aji pangabaran, Sanghyang Asmara juga mempunyai kesaktian berupa ; Asmaragama, Asmaratantra dan Asmaraturida. Rapal Aji Asmaragama pernah diajarkan kepada Prabu Arjunasasra, raja negara Maespati, dan kepada Arjuna, satria Pandawa. Sedangkan Rapal Aji Asmaratantra dan Asmaraturida diajarkan kepada Sri Kresna, raja negara Dwarawati.
Baca SelengkapnyaASMARA

ARJUNASASRABAHU

PRABU ARJUNASASRA yang waktu mudanya bernama Arjunawijaya, adalah putra Prabu Kartawirya raja negara Maespati dengan permaisuri Dewi Hagnyawati. Prabu Arjunasasra diyakini sebagai raja penjelmaan Bathara Wisnu, bila bertiwikrama dapat beralih rupa menjadi Brahalasewu, raksasa sebesar bukit, berkepala seratus, bertangan seribu yang semuanya memegang berbagai macam senjata. Karenanya ia termasyhur disebut dengan nama Arjunasasrabahu, artinya, Sang Arjunawijaya yang bertangan seribu.
Sebagai titisan Bathara Wisnu, Prabu Arjunasasra selain sangat sakti dan dapat bertiwikrama, juga memiliki senjata Cakra.

Ia merupakan raja satu-satunya yang dapat menaklukkan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Selain ahli dalam tata kenegaraan dan tata pemerintahan, Prabu Arjunasasra juga ahli dalam tata gelar perang, baik tata gelar pasukan maupun perorangan. Dalam masa kekuasaannya, Maespati menjadi sebuah negara besar yang membawahi lebih seratus negara jajahan. Ia mempunyai seorang patih yang sangat terkenal bernama Patih Suwanda/Bambang Sumantri, putra Resi Suwandagni dari pertapaan Argasekar.

Prabu Arjunasasra menikah dengan Dewi Citrawati, putri Prabu Citradarma dari negara Magada. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Ruryana. Akhir riwayatnya diceritakan, setelah kematian Dewi Citrawati dan Patih Suwanda, Prabu Arjunasasra pergi mengembara untuk mencari kematian. Ia kemudian bertemu dengan Ramaparasu yang mempunyai maksud sama. Dalam mengadu kesaktian, Prabu Arjunasasra tewas oleh panah Bargawastra yang dilepas Ramaparasu.
Baca SelengkapnyaARJUNASASRABAHU

ARJUNA



ARJUNA adalah putra Prabu Pandu Dewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita --- putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura.
Ia merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara. Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.

Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka.

Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa (dari Bathara Indra), Panah Ardadadali (dari Bathara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bathara Narada).Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, antara lain ; Keris Kyai Kalanadah, Panah Sangkali (dari Resi Durna), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kyai Sarotama, Keris Kyai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kyai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain ; Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama

Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah :
1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.
2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.
3. Dewi Srikandi
4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan
5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka
7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni
8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga
9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma
11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa
12. Dewi Maeswara
13. Dewi Retno Kasimpar
14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada
15. Dewi Dyah Sarimaya.

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung). Ia juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbang ali-ali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong).

Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa (mati sempurna) bersama ke-empat saudaranya yang lain.
Baca SelengkapnyaARJUNA

ARIMUKA

DETYA Arimuka adalah senapati perang negara Giyantipura dalam masa pemerintahan Prabu Darmahambara. Ia tercipta dari ari-ari Prabu Darmahambara yang karena daya kesaktian brahmana Pasurama berubah wujud menjadi raksasa. Arimuka mempunyai saudara kandung bernama Wahmuka, yang tercipta dari air ketuban atau kawah (Jawa).

Detya Arimuka sangat sakti. Ia hidup satu jiwa dengan saudara kembarnya, Wahmuka. Mereka harus mati secara bersamaan, sebab apabila salah satu diantara mereka mati, maka akan dapat dihidupkan kembali oleh saudaranya yang masih hidup. Arimuka dan saudara kembarnya, Wahmuka menjadi jago negara Giyantipura dalam sayembara tanding memperebutkan ketiga putri, putra Prabu Darmahambara dengan permaisuri Dewi Swargandini, yang bernama : Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Karena kesaktiannya itu, tak satupun para satria, raja maupun brahmana yang dapat mengalahkannya.

Detya Arimuka akhirnya tewas dalam peperangan melawan Dewabrata atau Resi Bisma, satria wadat dari negara Astina, putra Prabu Santanu dengan permaisuri Dewi Jahnawi/Dewi Gangga. Tubuh Arimuka hancur bersamaan dengan hancurnya tubuh Wahmuka terkena lembing Kyai Salukat Jasadnya kembali kewujud aslinya sebagai ari-ari.
Baca SelengkapnyaARIMUKA

ARIMBI

DEWI ARIMBI atau Hidimbi (Mahabharata) adalah putri kedua Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani, dengan Dewi Hadimba.
Ia mempunyai tujuh orang saudara kandung, bernama; Arimba/Hidimba, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.

Dewi Arimbi menikah dengan Bima/Werkudara, salah seorang dari lima satria Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti. Dari perkawinan itu ia mempumyai seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Dewi Arimbi menjadi raja negara Pringgandani, menggantikan kedudukan kakaknya, Prabu Arimba, yang tewas dalam peperangan melawan Bima.

Namun karena ia lebih sering tinggal di Kesatrian Jodipati mengikuti suaminya, kekuasaan negara Pringgandani diwakilkan kepada adiknya, Brajadenta sampai Gatotkaca dewasa dan diangkat menjadi raja negara Pringgandani bergelar Prabu Kacanegara. Dewi Arimbi mempunyai kesaktian; dapat beralih rupa dari wujudnya raksasa menjadi putri cantik jelita. Ia mempunyai sifat dan perwatakan; jujur, setia, berbakti dan sangat sayang terhadap putranya. Akhir kehidupannya diceritakan, gugur di medan Perang Bharatayuda membela putranya, Gatotkaca yang gugur karena panah Kunta milik Adipati Karna, raja negara Awangga.
Baca SelengkapnyaARIMBI

ARIMBA

ARIMBA atau Hidimba (Mahabharata) adalah putra sulung Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh orang adik kandung masing-masing bernama ; Dewi Arimbi/Hidimbi, Arya Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa, dan Kalabendana.

Arimba naik tahta kerajaan Pringgandani menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Arimbaka yang meninggal terbunuh oleh Prabu Pandu. Prabu Arimba menikah dengan Dewi Rumbini , dan mempunyai seorang putra bernama Arimbaji.

Prabu Arimba tewas dalam pertempuran melawan Bima/Werkudara, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Astina. Peristiwanya terjadi saat keluarga Pandawa hidup di hutan setelah selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan keluarga Kurawa dalam peristiwa Rumah Damar di hutan Wanayasa (peristiwa ' Balai Sigala-gala).
Baca SelengkapnyaARIMBA

ANTASENA

ANTASENA adalah Putra Bima/Werkudara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Urangayu, putri Hyang Mintuna (Dewa ikan air tawar) di Kisiknarmada. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara seayah lain ibu, yaitu : Antareja, putra Dewi Nagagini, dan Gatotkaca, putra Dewi Arimbi.

Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.
Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.

Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.
Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Bharatayuda.

Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.
Baca SelengkapnyaANTASENA

ANANTAREJA

ANANTAREJA adalah putera Bima/Werkudara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Nagagini, putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala.
Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama : Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu.

Anantaraja, atau yang lebih sering disingkat Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa.
Antareja adalah putra sulung Bimasena yang lahir dari Nagagini putri Batara Anantaboga, dewa bangsa ular. Perkawinan Bima dan Nagagini terjadi setelah peristiwa kebakaran Balai Sigala-Gala di mana para Korawa mencoba untuk membunuh para Pandawa seolah-olah karena kecelakaan.
Bima kemudian meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta.

Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Napakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra istri Arjuna.
Tiba-tiba muncul Gatotkaca menyerang Antareja. Gatotkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.Antareja dan Gatotkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa.
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian.

Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.

Anantareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuda.
Baca SelengkapnyaANANTAREJA

ANTAGOPA

ANTAGOPA adalah anak Buyut Gupala, pemelihara kebuyutan Widarakanda/Widarakandang (Jawa) pada jaman Prabu Basukunti di negara Mandura. Sejak kecil ia menjadi gembala, justru ia berpengalaman dalam mengembala binatang, ia dapat juga menggembala manusia.

Antagopa memiliki sikap hidup sederhana, setia, jujur dan patuh pada perintah. Ia seorang yang tidak bisa memiliki keturunan. Dengan hati ikhlas dan senang ia bersedia mengawini Ken Sagupi atas perintah Prabu Basudewa, walau ia tahu secara tidak resmi Ken Sagupi telah diperistri oleh tiga satria Mandura kakak beradik, Prabu Basudewa, Arya Prabu Rukma dan Arya Ugrasena. Atas keikhlasannya itu, Antagopa mendapat kedudukan demang di Widarakandang.

 Karena kesetiaan dan kepinterannya menyimpan rahasia, Antagopa berhasil mengasuh putra -putra Mandura. Arya Udawa, putra Ken Sagupi dengan Prabu Basudewa, Dewi Rarasati putri Ken Sagupi dengan Arya Prabu Rukma serta Arya Pragota dan Arya Adimanggala, putra Ken Sagupi dengan Arya Ugrasena, diakuinya sebagai putra-putrinya sendiri.

Ia juga dipercaya menyembunyikan dan mengasuh Kakrasana, Narayana dan Dewi Sumbadra, putra-putri Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra dan Dewi Madrahini, yang keselamatan jiwanya terancam oleh Kangsadewa. Pada masa tuanya Antagopa dan Ken Sagupi/Nyai Sagupi hidup bahagia. Semua asuhannya menjadi orang yang terhormat.
Baca SelengkapnyaANTAGOPA

ANTABOGA

ANTABOGA, SANG HYANG, atau Sang Hyang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga atau Sang Hyang Basuki adalah dewa penguasa dasar bumi.
Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak, yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara. Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (mlung-sungi).

Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala. Putrinya, Dewi Nagagini, menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa.

Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja. Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.
Baca SelengkapnyaANTABOGA

ANOMAN

ANOMAN / HANOMAN berwujud kera putih, tetapi dapat berbicara dan beradat-istiadat seperti manusia. Ia juga dikenal dengan nama ; Anjaniputra (putra Dewi Anjani), Bayudara (putra Bathara Bayu), Bayusiwi, Guruputra (putra Bathara Guru), Handayapati (mempunyai kekuatan yang sangat besar), Yudawisma (panglima perang), Haruta (angin), Maruti, Palwagaseta (kera putih), Prabancana, Ramandayapati (putra angkat Sri Rama), Senggana (panglima perang), Suwiyuswa (panjang usia) dan Mayangkara (roh suci, gelar setelah menjadi pendeta di Kendalisada).

Anoman adalah putra Bathara Guru dengan Dewi Anjani, putri sulung Resi Gotama dengan Dewi Windradi dari pertapaan Erriya/Grastina. Anoman merupakan makluk kekasih dewata. Ia mendapat anugerah Cupumanik Astagina, juga ditakdirkan berumur panjang, hidup dari jaman Ramayana sampai jaman Mahabharata, bahkan sampai awal/memasuki jaman Madya. Anoman memiliki beberapa kesaktian. Ia dapat bertiwikrama, memiliki Aji Sepiangin (dari Bathara Bayu), Aji Pameling (dari Bathara Wisnu), dan Aji Mundri (dari Resi Subali).

Tata pakaiannya yang melambangkan kebesaran, antara lain ; Pupuk Jarotasem Ngrawit, Gelung Minangkara, Kelat bahu Sigar Blibar, Kampuh/Kain Poleng berwarna hitam, merah dan putih, Gelang/Binggel Candramurti dan Ikat Pinggang Akar Mimang. Anoman tiga kali menikah. Pertama dengan Dewi Urangrayung, putri Begawan Minalodra dari Kandabumi. berputra Trigangga/Triyangga, berujud kera putih. Istri kedua bernama Dewi Sayempraba, putri raksasa Wisakarma dari Gowawindu, tidak mempunyai anak. Anoman kemudian menikah dengan Dewi Purwati, putri Resi Purwapada dari pertapaan Andonsumawi, berputra Purwaganti.

Anoman mempunyai perwatakan ; pemberani, sopan-santun, tahu harga diri. setia. prajurit ulung, waspada, pandai berlagu, rendah hati, teguh dalam pendirian, kuat dan tabah. Ia mati moksa, raga dan sukmanya lenyap di pertapaan Kendalisada.
Baca SelengkapnyaANOMAN

ANJANI

DEWI ANJANI adalah putri sulung Resi Gotama, brahmana dari pertapaan Erraya/Gratisna, dengan Dewi Indradi/Windradi, bidadari keturunan Bathara Asmara. Ia mempunyai dua orang saudara kandung bernama; Subali/Guwarsi dan Sugriwa/Guwarsa. Dewi Anjani berparas sangat cantik dan menarik hati. Ia memiliki Cupumanik Astagina pemberian ibunya, hadiah perkawinan Dewi Indradi dari Bathara Surya. Bila cupu itu dibuka di dalamnya akan dapat dilihat segala peristiwa yang terjadi di angkasa dan di bumi sampai tingkat ketujuh.

Pada suatu hari, Subali dan Sugriwa memergoki Dewi Anjani sedang bermain dengan cupu tersebut. Karena tidak boleh meminjamnya, Subali dan Sugriwa mengadu kepada ayahnya, Dewi Anjani dipanggil dan cupu diminta oleh Resi Gotama. Dewi Indradi yang tetap membisu takmau mengaku dari mana ia mendapatkan cupu tersebut, dikutuk Resi Gotama menjadi tugu batu yang kemudian dibuang ke udara jatuh ke wilayah negara Alengka.

Demi adilnya, Cupumanik Astagina dibuang ke udara oleh Resi Gotama untuk diperebutkan kedua putranya. Cupu jatuh di hutan pecah menjadi dua berubah wujud menjadi telaga Sumala dan telaga Nirmala. Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang masuk kedalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera.

Untuk menebus kesalahan dan agar bisa kembali lagi menjadi manusia, atas petunjuk ayahnya, Dewi Anjani melakukan tapa Nyantika (seperti katak) di telaga Madirda. Dalam tapanya itulah ia hamil karena menelan "air kama" Bathara Guru melalui selembar daun sinom.

Dewi Anjani kemudian melahirkan jabang bayi berwujud kera putih yang diberi nama Anoman. Beberapa saat setelah melahirkan Anoman, Dewi Anjani mendapat pengampunan Dewa, ia kembali menjadi putri berparas cantik, dan diangkat ke kahyangan Kaindran sebagai bidadari.
Baca SelengkapnyaANJANI

ANILA

ANILA berwujud wanara/kera berbulu biru tua. Kalau berjalan cepat seperti angin. Ia adalah salah satu senapati perang bala tentara kera kerajaan Kiskenda di bawah pimpinan Prabu Sugriwa. Anila terjadi dari ciptaan Bathara Narada, sehingga bentuknya kerdil pendek mirip dengan penciptanya.

Anila sangat sakti. Ia memiliki sifat dan perwatakan; pemberani, cerdik, pandai, tangkas dan trengginas. Oleh Prabu Sugriwa, Anila diangkat menjadi patih negara Gowa Kiskenda. Dalam perang Alengka, Anila tampil sebagai senapati perang menghadapi patih negara Alengka, Arya Prahasta. Perang seru terjadi, Prahasta yang tinggi besar dan gagah perkasa melawan Anila yang tangkas, gesit dan trengginas.

Pada saat terdesak sampai di pinggir arena peperangan, Anila melihat sebuah tugu batu. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Anila mengangkat tugu tersebut dan dihantamkan ke kepala Prahasta. Akibat benturan yang sangat keras, kepala Prahasta hancur dan mati seketika. Tugu batupun ikut hancur, yang seketika berubah wujud menjadi Dewi Indradi/Windradi, istri Resi Gotama dari pertapaan Erraya/Grastina.

Dewi Indradi adalah ibu dari Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa. Setelah mengucapkan terima kasih pada Anila, Dewi Indradi kembali ke kahyangan Kaindran, hidup sebagai bidadari.
Setelah perang Alengka berakhir, Anila kembali ke Gowa Kiskenda. Seperti wanara yang lain, Anila tidak dapat diketahui akhir hidupnya.
Baca SelengkapnyaANILA

ANGGRAINI

DEWI ANGGRAINI adalah istri Prabu Ekalaya/Palgunadi, raja negara Paranggelung. Ia berwajah cantik karena putri hapsari/bidadari Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai sifat dan perwatakan; setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami.

Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalaya dengan Arjuna akibat dari perbuatan Arjuna yang menggangu dirinya, dan suaminya, Prabu Ekalaya mati dibunuh Resi Durna dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal, Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan dirinya sendiri.

Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain, namun Dewi Anggraini tetap teguh cinta kesetiaannya kepada Ekalaya/Palgunadi, pelindungnya dalam kebahagiaan cinta.
Baca SelengkapnyaANGGRAINI

ANGGISRANA

ANGGISRANA adalah kepala barisan raksasa negara Awangga pada masa pemerintahan Prabu Kalakarna. Anggisrana berwujud raksasa dengan gigi tonggos, berpangkat tumenggung.

Anggrisrana memiliki sifat pemberani, tangkas, trengginas, banyak tingkah dan pandai bicara. Ia berwatak kejam, serakah, selalu menurutkan kata hati dan mau menangnya sendiri. Sebagai tumenggung, Anggisrana pandai dalam olah keprajuritan, khususnya memainkan senjata gada dan keris.
Karena lebih banyak tinggal di perbatasan, Anggisrana berjiwa liar.

Ia suka merampas harta penduduk, juga mengganggu ketenteraman hidup para brahmana. Akhir riwayatnya diceritakan, Anggisrana tewas dalam peperangan melawan Arjuna, tatkala keluarga Pandawa membantu Basukarna menyerbu negara Awangga dalam upaya merebut Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandaraka yang diculik Prabu Kalakarna.
Baca SelengkapnyaANGGISRANA

ANGGADA

ANGGADA berwujud kera berbulu merah, tetapi dapat berbicara dan beradat - istiadat seperti manusia. Anggada adalah putra Resi Subali dari pertapaan Sunyapringga dengan Dewi Tara, putri sulung Bathara Indra dengan Dewi Wiyati.

Ia berperawakan gagah perkasa dan sangat sakti. Anggada mempunyai sifat dan perwatakan ; pemberani, cerdik, pandai, tangkas trengginas dan mudah naik darah/pemarah. Sejak bayi Anggada hidup dalam asuhan pamannya, Prabu Sugriwa, raja kerajaan Gowa Kiskenda, karena ketika Resi Subali meninggal ia masih dalam kandungan. Menjelang pecah perang Alengka, Anggada dijadikan duta oleh Ramawijaya untuk meminta kepastian Prabu Dasamuka.

Dewi Sinta akan diserahkan secara damai, atau akan tetap dipertahankan dan direbut dengan jalan peperangan. Pada saat itu Prabu Rama dan bala tentara kera dari Gowa Kiskenda telah berada di pesanggrahan Suwelagiri, wilayah negara Alengka. Karena termakan hasutan Prabu Dasamuka perihal kematian Resi Subali yang dibunuh Ramawijaya, Anggada berbalik akan membunuh Prabu Ramawijaya sebagai balas dendam kematian ayahnya. Tapi akhirnya ia dapat ditundukkan oleh Anoman dan disadarkan Ramawijaya.

Anggada kemudian kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa pulang mahkota Prabu Dasamuka. Dalam perang Alengka. Anggada menunjukkan kegagahannya. Ia banyak membunuh senapati Alengka. Setelah perang Alengka berakhir, Anggada kembali keGowa Kiskenda, kemudian bertapa di pertapaan Sunyapringga sampai akhir hayatnya.
Baca SelengkapnyaANGGADA

AMBALIKA

DEWI AMBALIKA atau Dewi Ambiki (Mahabharata) adalah putri bungsu dari tiga bersaudara putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura dengan permaisuri dewi Swargandini. Kedua saudara kandungnya masing-masing bernama ; Dewi Amba, yang secara tak sengaja mati terbunuh oleh panah Dewabrata/Resi Bisma, dan Dewi Ambika, yang menjadi istri Prabu Citragada, putra sulung Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini dari negara Astina, dan kemudian menjadi istri Begawan Abiyasa.

Dewi Ambalika dan kakaknya, Dewi Ambaliki menjadi putri boyongan Dewabrata/Resi Bisma yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Di negara Astina, Dewi Ambalika dinikahkan dengan Wicitrawirya, putra bungsu Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini. Setelah Prabu Wicitrawirya meninggal karena sakit, atas kehendak Dewi Durgandini, Dewi Ambalika dinikahkan dengan Begawan Abiyasa, putra tunggal Dewi Durgandini dengan Begawan Palasara dari pertapaan Retawu. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang berwajah pucat, yang diberi nama Pandu, yang secara turun temurun kelak menurunkan keluarga Pandawa.

Dewi Ambalika berumur sangat panjang. Ia hidup sampai berakhirnya perang Bharatayuda Setelah penobatan Yudhistira menjadi raja negara Astina bergelar Prabu Kalimataya, dengan bimbingan Begawan Abiyasa, Dewi Ambika mati moksa bersama-sama dengan Dewi Ambika dan Dewi Durgandini.
Baca SelengkapnyaAMBALIKA

AMBA

DEWI AMBA adalah putri sulung dari tiga bersaudara, putri Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura dengan permaisuri Dewi Swargandini. Kedua adik kandungnya bernama; Dewi Ambika/Ambalika dan Dewi Ambiki/Ambaliki.

Dewi Amba dan kedua adiknya menjadi putri boyongan Resi Bisma/Dewabrata, putra Prabu Santanu dengan Dewi Jahnawi/Dewi Gangga dari negara Astina yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka.

Karena merasa sebelumnya telah dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Dewi Amba memohon kepada Dewabrata agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka. Persoalan mulai timbul. Dewi Amba yang ditolak oleh Prabu Citramuka karena telah menjadi putri boyongan, keinginannya ikut ke Astina juga ditolak Dewabarata. Karena Dewi Amba terus mendesak dan memaksanya, akhirnya tanpa sengaja ia tewas oleh panah Dewabrata yang semula hanya bermaksud untuk menakut-nakutinya. Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan, akan menuntut balas kematiannya dengan perantaraan seorang prajurit wanita.

Kutukan Dewi Amba terhadap Dewabrata menjadi kenyataan. Dalam perang Bharatayuda arwahnya menjelma dalam tubuh Dewi Srikandi yang berhasimenewaskan Resi Bisma/Dewabrata
Baca SelengkapnyaAMBA

Popular Posts

Contact

Nama

Email *

Pesan *