Perang Wirata - Hastina

PRABU BASUPARICARA MENINGGALKAN KERAJAAN WIRATA

 Prabu Basuparicara di Kerajaan Wirata sedang berduka karena sang permaisuri, yaitu Dewi Yukti meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Wrehadrata. Ia sangat sedih karena dua kali menikah selalu saja kehilangan istri. Yang pertama adalah Dewi Subakti yang meninggal karena sakit, dan yang kedua adalah Dewi Yukti yang meninggal setelah melahirkan. Pada suatu malam datang Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menyampaikan petunjuk bahwa Prabu Basuparicara harus pergi meninggalkan istana Wirata dan menjalani hidup sebagai petapa di hilir Sungai Jamuna. Dengan cara demikian, Prabu Basuparicara akan bertemu jodoh baru, yang kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Setelah mendapatkan petunjuk demikian, Prabu Basuparicara pun menitipkan Kerajaan Wirata kepada adiknya, yaitu Raden Basuketu, kemudian ia berangkat meninggalkan istana menuju Sungai Jamuna.

 RADEN BASUKETU MENDAPAT SURAT PANGGILAN DARI PRABU PRATIPA

 Pada suatu hari, Raden Basuketu menerima kedatangan Patih Basusara dari Kerajaan Hastina (yang dulu bernama Kerajaan Gajahoya) yang menyampaikan surat dari rajanya, yaitu Prabu Pratipa. Melalui surat itu, Prabu Pratipa menyatakan dirinya kini merdeka dan memakai gelar baru, yaitu Prabu Dewamurti serta tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata. Secara silsilah maupun secara usia, Prabu Dewamurti lebih tua daripada Prabu Basuparicara sehingga ia merasa berhak memanggil raja Wirata untuk datang menghadap kepadanya di Kerajaan Hastina. Setelah membaca surat tersebut, Raden Basuketu berusaha menjawab dengan tenang bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana Wirata. Sebagai wakil raja, ia merasa tidak berwenang menanggapi panggilan Prabu Pratipa. Ia pun menulis surat balasan dan mempersilakan Patih Basusara kembali ke Kerajaan Hastina.

PRABU DEWAMURTI BERSIAP MENYERANG KERAJAAN WIRATA

Prabu Dewamurti di Kerajaan Hastina dihadap ketiga putranya yang bernama Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu. Hadir pula sang mertua, yaitu Prabu Bahlikasura raja Siwandapura beserta Patih Wikuntana. Prabu Bahlikasura datang untuk menanyakan niat Prabu Dewamurti yang kabarnya hendak menaklukkan Kerajaan Wirata. Jika benar demikian, ia bersedia membantu dengan segenap kemampuan. Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu bertanya mengapa sang ayah bermusuhan dengan Kerajaan Wirata, padahal secara silisilah memiliki leluhur yang sama. Prabu Dewamurti pun bercerita bahwa pada mulanya Kerajaan Wirata dipimpin kakeknya, yaitu Prabu Basumurti. Setelah Prabu Basumurti meninggal, takhta seharusnya jatuh kepada putra tunggalnya, yaitu Prabu Hastimurti.

Akan tetapi, Prabu Hastimurti sudah menjadi raja bawahan di Gajahoya, sehingga yang dilantik sebagai raja Wirata adalah Prabu Basukesti, adik Prabu Basumurti. Setelah Prabu Hastimurti meninggal, takhta Gajahoya kemudian diwarisi Prabu Pratipa. Sementara itu, Prabu Basukesti mewariskan takhta Wirata kepada putranya, yaitu Prabu Basukiswara. Usia Prabu Pratipa lebih tua daripada Prabu Basukiswara, tetapi karena silsilah, ia harus memanggil “paman” kepadanya. Selain itu, Prabu Pratipa juga menyimpan dendam karena pamannya dari pihak ibu, yaitu Resi Basundara, pernah diusir oleh Prabu Basukiswara karena peristiwa hilangnya Dewi Yukti yang diculik pelangi jadi-jadian. Prabu Pratipa lalu membangun istana baru di Hutan Kurujanggala yang lebih megah daripada Gajahoya.

Istana baru itu diberi nama Hastina. Nama ini sengaja dipakai untuk mengenang ayahnya, yaitu Prabu Hastimurti. Sementara itu, yang menjadi raja Wirata saat ini adalah Raden Basuketi, putra sulung Prabu Basukiswara yang bergelar Prabu Basuparicara. Karena usia dan silsilah Prabu Pratipa lebih tua, maka ia tidak sudi menjadi bawahan Prabu Basuparicara dan menyatakan Hastina sebagai kerajaan merdeka. Ia pun mengganti gelarnya menjadi Prabu Dewamurti. Setelah mendengar cerita tersebut, ketiga putra Prabu Dewamurti pun mengutarakan pendapat yang berbeda-beda.

Raden Dewapi mendukung Kerajaan Hastina merdeka, tetapi tidak setuju jika ayahnya memerangi raja Wirata karena masih saudara. Raden Bahlika sepenuhnya mendukung Hastina merdeka sekaligus Wirata juga harus ditaklukkan. Sementara itu, Raden Santanu menyarankan agar ayahnya tetap menjaga perdamaian dengan pihak Wirata, dan tidak perlu memerdekakan diri. Raden Santanu juga mengingatkan tentang Resi Basundara yang telah meninggal dunia akibat terlalu memikirkan kemungkinan terjadinya perang saudara antara Wirata dan Hastina. Prabu Dewamurti tersinggung mendengar pendapat putra bungsunya itu. Ia pun memarahi Raden Santanu habis-habisan. Pada saat itulah datang Patih Basusara yang menyampaikan surat balasan dari Kerajaan Wirata, bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana, sehingga wakilnya, yaitu Raden Basuketu tidak berani memenuhi panggilan Prabu Pratipa.

 Prabu Dewamurti tersinggung membaca surat balasan tersebut, apalagi Raden Basuketu tidak mengakui gelar barunya. Kini tekadnya telah bulat untuk menyerang dan menaklukkan Kerajaan Wirata. Ia pun memerintahkan Patih Basusara untuk mengumpulkan seluruh pasukan Hastina yang ditambah dengan bala bantuan dari Kerajaan Siwandapura.

 RADEN SANTANU MELAPORKAN AYAHNYA KEPADA PIHAK WIRATA

Sementara itu, Raden Basuketu di Kerajaan Wirata sedang berunding dengan Patih Wasita, Arya Manungkara, Arya Srimadewa, serta para punggawa lainnya. Mereka membicarakan tentang sikap Prabu Dewamurti yang menyatakan Kerajaan Hastina telah merdeka dan tidak mau lagi menjadi bawahan Wirata. Tiba-tiba Raden Santanu datang menghadap dan melaporkan rencana ayahnya yang hendak menyerang Kerajaan Wirata dengan mengerahkan gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura. Raden Basuketu terkejut sekaligus marah mendengar laporan ini. Ia pun berterima kasih kepada Raden Santanu dan segera menyebarkan surat kepada Kerajaan Mandraka dan Gandaradesa supaya mengirimkan bala bantuan untuk menghadapi serangan besar-besaran Prabu Dewamurti tersebut.

 RESI MAHOSADA BERTAPA DI HILIR SUNGAI JAMUNA

Tersebutlah seorang petapa bernama Resi Mahosada yang sedang bersamadi di hilir Sungai Jamuna. Pada suatu hari ia didatangi pendeta bernama Resi Nirmalacipta dari Padepokan Giripurna. Resi Nirmalacipta ini mengaku telah kehilangan putrinya yang bernama Endang Adrika, yang jatuh tercebur di Sungai Jamuna kemudian hanyut terbawa arus. Menurut petunjuk Dewata, Resi Nirmalacipta harus meminta bantuan Resi Mahosada yang saat ini sedang bertapa di hilir Sungai Jamuna. Resi Mahosada menyanggupi permintaan Resi Nirmalacipta tersebut. Ia lalu mengheningkan cipta memohon kekuatan dari Dewata untuk menemukan Endang Adrika. Secara ajaib, sepasang lengan Resi Mahosada bisa menjulur sangat panjang untuk digunakannya menyelami dan mengaduk-aduk Sungai Jamuna. Beberapa saat kemudian, kedua lengannya itu kembali ke ukuran semula sambil menggenggam seekor ikan emas betina. Resi Mahosada lalu mengheningkan cipta meruwat ikan emas tersebut. Secara ajaib, wujud ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik, yang tidak lain adalah Endang Adrika, putri Resi Nirmalacipta.

Resi Nirmalacipta sangat bahagia dan memeluk putrinya yang telah ditemukan tersebut. Endang Adrika pun bercerita bahwa ketika sedang mengambil air, kakinya terpeleset dan tubuhnya tercebur ke dalam Sungai Jamuna. Entah bagaimana, tiba-tiba saja wujudnya berubah menjadi seekor ikan emas betina. Kini, berkat bantuan Resi Mahosada, ia pun terbebas dari kutukan dan kembali lagi menjadi manusia. Pada saat itulah datang Batara Narada yang menyampaikan perintah Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka supaya Resi Nirmalacipta menikahkan Endang Adrika dengan Resi Mahosada, yang tidak lain adalah penyamaran Prabu Basuparicara raja Wirata. Batara Narada berpesan pula bahwa dari perkawinan itu kelak akan lahir raja-raja Tanah Jawa. Batara Narada kemudian menyampaikan petunjuk kedua, bahwa Kerajaan Wirata saat ini akan berperang dengan Kerajaan Hastina. Akan tetapi, Prabu Basuparicara tidak perlu khawatir karena Raden Basuketu mampu mengatasi masalah ini. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun undur diri kembali ke kahyangan. Resi Nirmalacipta sangat berkenan menerima perintah Dewata. Ia pun mengundang Prabu Basuparicara singgah di Padepokan Giripurna. Prabu Basuparicara menolak secara halus karena saat ini ia harus segera kembali ke Kerajaan Wirata yang sedang dalam keadaan genting. 

PRABU DEWAMURTI GUGUR DALAM PEPERANGAN

Sementara itu, Prabu Dewamurti yang memimpin langsung gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura telah tiba di wilayah Kerajaan Wirata. Kedatangan mereka disambut oleh gabungan pasukan Wirata, Mandraka, dan Gandaradesa yang dipimpin langsung oleh Raden Basuketu. Perang besar pun terjadi. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Setelah sehari penuh bertempur, Prabu Bahlikasura raja Siwandapura tewas di tangan Raden Basuketu yang bersenjatakan pedang Candrahasa, warisan Srimaharaja Purwacandra di zaman dulu. Melihat mertuanya terbunuh, Prabu Dewamurti sangat murka dan menerjang Raden Basuketu. Pertarungan sengit terjadi antara mereka. Raden Basuketu yang lebih muda dan kalah pengalaman terdesak oleh kesaktian Prabu Dewamurti. Akan tetapi, kemenangan itu membuat Prabu Dewamurti lengah, sehingga lehernya pun putus terpenggal pedang Candrahasa di tangan Raden Basuketu. Melihat ayah dan kakeknya tewas, Raden Bahlika bergegas melarikan diri bersama Patih Wikuntana menuju Kerajaan Siwandapura di tanah seberang, sedangkan Raden Dewapi dan Patih Basusara menyerahkan diri.

RADEN SANTANU DILANTIK MENJADI RAJA HASTINA

Prabu Basuparicara dan istri barunya, yaitu Endang Adrika, telah tiba di Kerajaan Wirata. Raden Basuketu menyambut kedatangan mereka dan melaporkan segala yang telah terjadi. Prabu Basuparicara sangat sedih mendengarnya, apalagi peristiwa itu harus berakhir dengan kematian Prabu Dewamurti yang masih kerabat sendiri. Prabu Basuparicara lalu memanggil dua putra mendiang Prabu Dewamurti yang tersisa, yaitu Raden Dewapi dan Raden Santanu untuk menentukan siapa di antara mereka yang harus mewarisi Kerajaan Hastina. Sebagai putra sulung, tentunya Raden Dewapi lebih berhak atas takhta ayahnya. Akan tetapi, Raden Santanu memberi tahu Prabu Basuparicara bahwa kakaknya itu menderita penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh dan bisa menular. Seorang raja yang memiliki penyakit seperti ini tentunya akan sangat berbahaya dan bisa kehilangan wibawa di mata rakyat.

Raden Dewapi tersinggung mendengar ucapan adiknya. Ia mengakui bahwa dirinya memang memiliki penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh. Akan tetapi, cara bicara Raden Santanu sangat menyakitkan hati. Ditambah lagi perbuatan Raden Santanu yang telah mengkhianati ayah sendiri, jelas ini sangat durhaka. Raden Dewapi pun merelakan takhta Kerajaan Hastina diwarisi Raden Santanu, namun ia juga mengutuk adiknya itu kelak hanya akan memiliki anak saja, tanpa memiliki cucu, sehingga takhta akan jatuh ke tangan orang luar. Setelah mengucapkan kutukan tersebut, Raden Dewapi bergegas pergi meninggalkan istana Wirata untuk bertapa di dalam hutan. Raden Santanu sangat prihatin dan ia pun menjelaskan kepada Prabu Basuparicara bahwa dirinya sama sekali tidak ada niat durhaka kepada orang tua. Tujuannya melapor ke Wirata adalah untuk menyadarkan ayahnya agar jangan memberontak. Tak disangka, sang ayah justru terbunuh dalam pertempuran tersebut. Prabu Basuparicara memercayai penuturan Raden Santanu.

Ia lalu mengangkat putra bungsu mendiang Prabu Dewamurti itu sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Santanu, atau lengkapnya Prabu Santanumurti. Adapun jabatan menteri utama tetap dipegang oleh Patih Basusara. Prabu Basuparicara sangat menyesali kematian Prabu Pratipa Dewamurti yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hanya karena berebut wibawa dan kuasa, mengapa sesama saudara harus saling membunuh? Untuk itu, Prabu Basuparicara pun menyatakan mulai hari ini Kerajaan Hastina tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata, dan Prabu Santanu dianggap sebagai sekutu yang sederajat. Prabu Santanu sangat berterima kasih atas kepercayaan ini. Meskipun telah merdeka, ia menyatakan tetap menganggap raja Wirata sebagai sesepuh yang akan selalu dihormati layaknya pengganti orang tua. Sementara itu, Prabu Basuparicara yang pernah mendapatkan pengalaman ajaib yaitu berlengan sangat panjang, kini mendapatkan gelar baru pula, yaitu Prabu Dirgabahu.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa
Baca SelengkapnyaPerang Wirata - Hastina

Pandawa Nugraha

Lakon ini menceritakan Begawan Dursilagangga yang berada di Keraton Astina, dengan maksud akan mempersatukan Pandawa dan Kurawa.Namun pada waktu itu Pandawa sedang komplang (suwung, tidak ada di tempat), tidak ada di Amarta. Situasi itu dimanfaatkan Dursilagangga mencuri Dewi Subadra dari Kasatrian Madukara, kediaman Arjuna.

Sementara itu, para Pandawa berada di Astina Gadamadana, mohon kepada para dewa agar unggul dalam perang Baratayuda dan dikabulkan oleh dewa.

Semar memberitahukan pada Arjuna bahwa Dewi Subadra sekarang di Astina akan diperistri Dursilagangga, maka para Pandawa, Prabu Kresna dan Semar ke Astina.

Arjuna telah mendahului bertemu dengan Dewi Banowati. Akhirnya Dewi Subadra kembali ke Madukara dan dalam perang tanding dengan Arjuna, Dursilagangga berubah ujud Dasayitma, yakni arwah Rahwana, raja Alengka yang telah mati.
Baca SelengkapnyaPandawa Nugraha

Rahwana Jadi Raja

Seiring putaran waktu, kini para putra Wisrawa telah kian tumbuh dewasa. Putra tertua bernama Rahwana bertubuh tinggi besar berwujud raksasa yang mukanya bisa berubah menjadi sepuluh muka (dasamuka) jika ia marah, kedua adalah Kumbakarna berwujud raksasa yang sangat besar tubuhnya melebihi besarnya tubuh Rahwana, ketiga Sarpakaneka berwujud raseksi (rasaksa perempuan), dan yang bungsu adalah Gunawan Wibisana berwujud kesatria tampan. Keempatnya tumbuh dipelihara dan dididik oleh paman mereka, Prahasta.

Prahasta adalah seorang raksasa yang bijaksana, ia sangat menyayangi keponakan-keponakannya, tidak ada yang dibeda-bedakan kasih sayang yang diberikan Prahasta kepada mereka, semuanya sama.

Suatu hari ayah Prahasta, Begawan Sumali menyuruh cucu-cucunya untuk melakukan tapa brata di gunung Gohkarna. Ia Berharap cucu-cucunya kelak akan menjadi kesatria-kesatria mumpuni yang bisa dibanggakan oleh negara dan bangsanya, maka berangkatlah ke-empatnya menuju gunung Gohkarna. Disana mereka memilih tempat masing untuk melakukan tapa brata. Cara bertapa mereka tidak sama, Rahwana bertapa sambil berdiri dengan kaki sebelah diangkat ke atas, tangannya yang satu diangkat ke atas menengadah ke langit dan tangan yang satunya lagi disilang di depan dada. Kumbakarna melakukan tapa brata dengan cara tidur, tubuhnya yang besar menyerupai besarnya bukit terbujur diantara lembah gunung Gohkarna. Sarpakaneka bertapa dengan cara menjungkir badannya hingga kepalanya di bawah dan kakinya di atas, sedangkan Gunawan Wibisana melakukan tapa brata dengan cara layaknya para kesatria, sidakep sinuku tunggal. Selama puluhan tahun para putra Wisrawa dengan tekun melakukan mati raga, dan ketika menginjak waktu yang kelima puluh tahun, Candradimuka mengguncang hebat.

Kawah panas Candradimuka menggelegar-gelegar membuncahkan laharnya, batu pijar dan panasnya api lahar berhamburan, asap hitam membaur menaungi puncak Tengguru, kahyangan Suralaya diliputi awan hitam pekat. Para batara dan batari, para dewa dan para dewi penghuni kahyangan menjerit panik dengan kejadian alam Candradimuka yang tidak bersahabat.

Batara Narada menanyakan kepada Batara Guru tentang tanda-tanda yang tengah di-isyaratkan oleh Candradimuka sehingga bergolak hebat, membuat para penghuni kahyangan menjadi ketakutan.

Dengan menggunakan pusaka Gambarlopian, Batara Guru menjelaskan sumber perkara tersebut, bahwasanya Candradimuka telah dikagetkan oleh tapa brata dari ke-empat putra Wisrawa di gunung Gohkarna, namun Batara Guru sendiri tidak tahu apa yang menjadi keinginan para putra Wisrawa hingga melakukan mati raga sedemikian hebat. Untuk itu, Batara Guru mengajak Batara Narada untuk menemui mereka, menanyakan langsung maksud dan tujuan mereka melakukan tapa brata.

Di puncak gunung Gohkarna, gunung wingit yang tidak pernah dijamah oleh manusia, Batara Guru dan Batara Narada menemui salah seorang putra Wisrawa, Rahwana. Selama lima puluh tahun matanya tertutup, raganya terkunci dan kini mata itu terbuka membelalak, mengamati dua orang yang telah menggugahnya dari tapa brata. Setelah tahu bahwa dihadapannya adalah Sanghyang Tengguru dari kahyangan Suralaya, dan ketika raja dari para dewa itu menanyakan hal apa yang menjadi keinginannya hingga mau melakukan mati raga selama berpuluh-puluh tahun, Rahwana mengajukan permintaan. Ia ingin memiliki kesaktian dan kedigjayaan melebihi siapa pun para penghuni marcapada, tidak dapat dikalahkan oleh para penghuni di dasar bumi, baik jin atau siluman, manusia bahkan para dewa di kahyangan. Bukan hanya itu, ia juga ingin bisa bertiwikrama menjadi sebesar gunung Gohkarna, dan minta agar umurnya dipanjangkan selama se-umur seribu gajah, seribu perkutut, seribu naga, dan sepanjang umur tujuh zaman.

Permintaan Rahwana disetujui oleh Batara Guru walau Batara Narada sendiri sempat mengingatkan akan datangnya ke-angkara murka-an yang akan merusak tatanan marcapada dihari depannya nanti bila keinginan Rahwana dipenuhi.

Selanjutnya Batara Guru dan Batara Narada menemui Kumbakarna yang sedang bertapa tidur di lembah Gohkarna. Batara Guru menggugahnya dan menanyakan keinginan Kumbakarna. Putra kedua resi Wsirawa tidak menginginkan apa-apa, ia tidak ingin meminta segala kesaktian karena ia merasa tidak mempunyai musuh di marcapada, ia hanya ingin bisa tertidur nyenyak, makan, dan segala hal kenikmatan yang menjadi kesukaannya, sebab dengan makan dan tidur hidupnya sudah merasa nyaman tanpa harus mengganggu ketentraman hidup orang lain. Batara Guru memenuhi permintaan Kumbakarna. Ia memberikan rasa kantuk yang berkepanjangan kepada putra kedua Wisrawa.

Di tempat terpisah masih dari bagian lereng gunung Gohkarna, Batara Guru dan Batara Narada membangunkan Sarpakaneka. Anak ketiga Wisrawa yang berwujud raksesi (raksasa wanita) meminta diberi kesaktian dan kekuatan yang setaraf dengan para dewa, dan diberi kenikmatan-kenikmatan dunia, dipenuhi segala nafsunya terutama syahwatnya.

Dan ketika Batara Guru menggugah Gunawan Wibisana, putra keempat begawan Wisrawa ini tidak meminta kesaktian, ia hanya minta diberi kebijaksanaan dan senantiasa selalu berada dijalan kebenaran atau dharma.

Setelah menuai hasil dari tapa brata, ke-empat putra Wisrawa kembali pulang ke negeri Alengka. Dan saat itu pula Rahwana dinobatkan menjadi raja Alengka.
Baca SelengkapnyaRahwana Jadi Raja

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Tersebutlah sebuah negara bernama Lokapala. Yang menjadi raja adalah seorang pemuda gagah sakti mandraguna, pandai dalam olah keprajuritan bernama Wisrawana atau juga yang bergelar Prabu Danaraja/Danapati. Rakyat dan bala tentara Lokapala terdiri dari bangsa manusia dan raksasa. Lokapala merupakan salah satu kerajaan tertua, sebelum pemerintahan dipimpin oleh Prabu Danaraja, dahulunya kerjaan ini dipimpin oleh para leluhurnya. Pendiri Lokapala sendiri adalah Prabu Andanapati yang merupakan putra dari Batara Sambodana (anak Batara Sambu).

Prabu Andanapati mempunyai seorang kakak kandung bernama Resi Wasista.

Prabu Lokawana yang adalah generasi ketiga dari Prabu Andanapati menurunkan seorang putri bernama dewi Lokawati. Ia menjodohkan putrinya dengan Resi Wisrawa yang adalah putra dari Resi Supadma (generasi ketiga Resi Wasista). Jadi antara Resi Wisrawa dan Dewi Lokawati masih terjalin pertalian saudara yang kemudian lahir Prabu Wisrawana (Prabu Danaraja).

Alkisah Prabu Danaraja mendengar ada sebuah sayembara yang memperebutkan seorang putri cantik bernama Dewi Sukesi. Dewi Sukesi adalah putri dari Prabu Sumali seorang raja raksasa pemimpin negara Alengka. Kecantikan Dewi Sukesi yang telah kesohor keseluruh mancanegara sudah dipastikan akan menjadi perebutan diantara para raja-raja. Tidak terkecuali dengan Prabu Danaraja yang ingin sekali memperistri Dewi Sukesi dan menyandingkannya sebagai permaisuri kerajaan Lokapala. Maka disampaikanlah keinginan itu kepada ayahandanya Resi Wisrawa. Kepada ayahandanya, Danaraja menyampaikan hasratnya ingin menikahi Dewi Sukesi. Namun ang membuat Danaraja merasa berkecil hati adalah sayembara yang digelar oleh Prabu Sumali bukanlah sayembara unjuk kedigjayaan yang bersifat keprajuritan, akan tetapi sayembara itu adalah syarat yang diminta langsung oleh sang dewi untuk bisa membuka tabir "Sastra Jendra Hayu Ningrat". Sudah banyak raja-raja mancanegara yang mengundurkan diri dalam sayembara karena mereka tidak mampu membuka tabir tersebut. Namun Danaraja merasa yakin bahwa ayahandanya mampu membuka tabir Sastra Jendra Hayuningrat. Untuk itu Danaraja meminta kepada ayahnya agar mau mengikuti sayembara mewakili dirinya.

Resi Wisrawa yang sangat mencintai putranya itu sudah pasti sangat senang dan mengabulkan permintaan sang putra. Ia pun berpendapat bahwa, tidak pantas bagi seorang raja terjun langsung ke dalam arena sayembara, terlebih lagi tentang Sastra Jendra yang dianggapnya hanya dririnya sendiri yang mampu menjabarkan ilmu adiluhung tersebut. Dengan cinta yang tulus dari seorang ayah, Wisrawa bersedia berangkat ke Alengka untuk melamar sang putri Sukesi.

Alengkadirja adalah kerajaan besar yang dipimpin oleh raja raksasa bernama Prabu Sumali. Walaupun sang raja berwujud raksasa namun hati dan tindak-anduknya jauh lebih mulia melebihi manusia lumrah. Prabu Sumali sendiri adalah putra dari raja Alengka sebelumnya, Prabu Puksura. Prabu Sumali juga memiliki putra yang berwujud raksasa bernama Prahasta yang sangat sakti. Negara Alengka merupakan negara yang sudah berusia cukup tua. Raja-raja sebelumnya yaitu Prabu Banjaranjali, Prabu Jatimurti, Prabu Getahbanjaran, Prabu Bramanatama, Prabu Puksura dan terakhir Prabu Sumali. Rakyat Alengka kebanyakan adalah para raksasa yang hidup tentram dan damai dibawah kepemimpinan raja-raja tersebut.

Prabu Sumali tengah dirundung bingung. Ia sedang mencari jodoh untuk putrinya yang tercinta Dewi Sukesi. Namun sang putri yang dikasihinya itu menuntut syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi bagi kebanyakan orang. Yang ingin meminangnya harus ahli membedarkan sastra agung Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Namun diluar persyaratan itu, Jambumangli yang merupakan paman Dewi Sukesi sendiri yang berwujud raksasa, menghendaki Sukesi menikah dengan seorang satria yang mampu mengatasi keperkasaannya. Syarat yang dibuat oleh Jambumangli sendiri. Dan memang hingga kini tidak satupun para kesatria dan raja yang datang ke Alengka mampu mengalahkan kedigjayaan Jambumangli. Ada udang dibalik batu. Sebenarnya Jambumangli menginginkan Sukesi. Jambumangli tidak ingin ada orang lain yang boleh mempersunting Sukesi. Hal tersebut sebenarnya telah diketahui oleh Sukesi, maka dari itu Sukesi pun meminta syarat khusus yang tidak bisa dipenuhi oleh Jambumangli.

Resi Wisrawa akhirnya sampai di istana Alengka dan bertemu dengan Prabu Sumali. Sebenarnya Resi Wisrawa dan Prabu Sumali adalah sahabat dekat, hubungan mereka sangat akrab. Tanpa basa basi Wisrawa menyampaikan maksudnya kepada Prabu Sumali. Sang prabu memberitahukan bahwa untuk mendapatkan Dewi Sukesi ada syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak memandang apa dan siapa, dari golongan mana orangnya, yaitu harus dapat mengungkapkan tabir Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Resi Wisrawa menyanggupi. Ia menjelaskan kepada Prabu Sumali apa arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu sastrajendra diajarkan kepada Dewi Sukesi, Resi Wisrawa memberikan sekilas tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata, jika dengan sesungguhnya menghendaki keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra. Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah rahasia alam semesta, barang siapa yang mampu membaca, memahami dan melaksanakan ajaran Sang Maha Pencipta yang tersirat dan tersurat, maka ia akan menjadi besar dalam kesempurnaan hidupnya. Yang menyadari dan mentaati benar makna yang terkandung dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur.

Prabu Sumali tertegun mendengar uraian Resi Wisrawa. Mendengar penjelasan singkat itu Prabu Sumali hatinya menjadi sangat terpengaruh, dengan segera ia mempersilahkan Resi Wisrawa masuk ke dalam sanggar Dewi Sukesi. Wejangan dilakukan di dalam sanggar, berduaan tanpa ada makhluk lain kecuali Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, agar penjabaran ilmu tersebut bisa diserap langsung oleh sang dewi dengan sempurna.

Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah ilmu sebagai kunci orang dapat memahami isi alam semesta, dimana di dalamnya terkandung makna hubungan manusia dengan Sang Pencipta Yang Maha Esa, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta dimana manusia itu hidup. Dan pada akhirnya kemana manusia itu akan kembali. Maka dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai sarana pemusnah segala bahaya. Sudah tidak ada lagi ilmu yang paling tinggi, segalanya sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala macam ilmu.

Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh alam semesta beserta perkembangannya. Jadi, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kembalinya manusia kepada Sang Penciptanya.

Sementara itu di kahyangan Suralaya, Jonggring Salaka. Sanghyang Jagatnata (Batara Guru) sangat gelisah. Ia sangat merisaukan permintaan Dewi Sukesi yang ingin mengetahui serat ilmu Sastra Jendra. Dan yang lebih membuat hatinya risau bercampur marah adalah Wisrawa kini sedang mencoba menjabarkan ilmu tersebut. Jagatnata tidak ingin siapapun, mahluk apapun di jagat raya ini mengetahui risalah Sastra Jendrahayuningrat. Sebab, bila semua itu terjadi, apalagi manusia atau mahluk di jagat pramuditya ini menjalankan makna yang terkandung dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, maka tidak akan ada lagi bangsa manusia, jin dan raksasa yang memuja para dewa. Suralaya akan terguncang, hancur luluh. Untuk itu Sanghyang Jagatnata bermaksud ingin menggagalkan tujuan Wisrawa. Bersama Dewi Permoni, Sanghyang Jagatnata turun ke mayapada menuju Alengkadirja.

Dalam pesanggrahan yang hanya diterangi oleh titik cahaya, dua insan berbeda jenis saling berhadapan. Resi Wisrawa memulai wejangannya membuka risalah-risalah ilmu agung kepada Dewi Sukesi. Dilain pihak, tanpa diketahui oleh kedua insan ini, dua titik cahaya yang mempunyai maksud tersembunyi menyeruak masuk ke dalam pesanggrahan. Dua titik itu terus menerobos masuk dan meraga sukma ke dalam jasad Wisrawa dan Sukesi. Dua titik cahaya tadi tidak lain adalah Sanghyang Jagatnata yang merasuk ke dalam tubuh resi Wisrawa, dan titik satunya adalah Dewi Permoni yang juga telah merasuk ke dalam jasad Dewi Sukesi.

Jauh di dalam jasad, di alam yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dua mahluk berupaya merusak nafsu yang menjadi dasar kodrat kemanusiaan. Dewi Permoni yang mempengaruhi nafsu-nafsu Dewi Sukesi, dan Sanghyang Jagatnata yang mempengaruhi nafsu-nafsu Wisrawa. Keduanya menggoda dengan sangat kuat. Godaan demi godaan kian membakar diantara kedua insan. Wisrawa dan Sukesi tidak lagi mampu menahan godaan. Tepat sebelum Wisrawa mampu menjabarkan keseluruhan serat Sastra Jendra, keduanya terjerumus dalam kubang kenistaan. Jebolah dinding pertahanan Wisrawa dan Sukesi hingga keduanya larut dalam cumbuan birahi yang membutakan mereka. Tidak ada lagi penyesalan diantara keduanya pada saat itu. Hubungan tersebut terjalin berlarut-larut hingga Dewi Sukesi membuahkan kandungan. Wisrawa lupa bahwa ia pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya untuk memenuhi syarat yang diinginkan Dewi Sukesi.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah sebuah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar dunia dikemudian hari. Namun apapun hasilnya harus tetap dijalani. Wisrawa dan Sukesi menceritakan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali. Dengan arif Prabu Sumali menerima kenyataan yang sudah terjadi. Akhirnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan seluruh sayembara ditutup.
Baca SelengkapnyaSastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Bogadenta dan Tetesan Air Mata Kehidupan

Bogadenta adalah salah satu Sata Kurawa yang terkemuka. Ia juga kadang disebut sebagai Bogadatta, atau juga Bhagadatta. Ia adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dari negara Gandaradesa. Bogadenta terjadi dari tali pusar Suyudana yang hilang saat lahir. Tali pusar itu ditemukan oleh Resi Rasakumala di Padepokan Colomadu yang baru kesepian setelah ditinggal mati istrinya. Oleh Resi Rasakumala, tali pusar itu dicipta menjadi bayi yang diberi nama Raden Trigatra.

Bogadenta dalam wayang Gagrag (gaya) Yogyakarta tergolong tokoh gagahan dengan posisi langak dengan mata thelengan, hidung bentulan, mulut salitan dengan kumis, jenggot dan cambang. Ia memakai mahkota pogag dengan hiasan turida, jamang, sumping, mangkara, dan gelapan utah-utah pendek dengan ukuran yang besar serta memakai rembing. Badannya gagahan dengan ulur-ulur naga mamongsa, memakai praba sebagai lambang kebesaran sebagai raja. Rambut ngore odhol, posisi kaki jangkahan raton dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, dodot bermotif parang rusak. Ia memakai kelatbahu naga parangrang, dan gelang calumpringan.

Bogadenta memperoleh kesaktian dari Resi Rasakumala, sampai kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan Padepokan Colomadu. Saat sampai di Astina, seekor Gajah mengamuk dan mengejar seorang putri. Ia berhasil menolong putri tersebut dan menundukkan sang gajah dengan meloncat ke atas leher, menunggangi dan menekan kepala sang Gajah hingga tak berdaya. Gajah itu kemudian menjadi kendaraan Bogadenta dan diberi nama Murdaningkung, sedang sang putri yang bernama Murdaningsih menjadi srati atau pawang.

Dalam lakon “Bima Timbang (Bima Trajon)”, Sakuni mengadu remaja-remaja Kurawa dan Pandawa untuk ditimbang, pihak yang menang akan mendapat hadiah. Mengetahui kalah jumlahnya, Pandawa kemudian mengajukan syarat agar Kurawa dulu yang naik ke timbangan. Setelah Kurawa naik, Pandawa satu persatu menaiki timbangan. Bima yang mendapat giliran terakhir kemudian dengan sekuat tenaga meloncat ke timbangan. Akibatnya Bogadenta dan beberapa saudaranya terpental hingga ke negara seberang. Atas kesaktian Bogadenta, ia kemudian menaklukkan Turilaya, negara seberang tersebut dan menjadi raja dengan memperistri Dewi Murdiningrum.

Dalam perang Bharatayudha, bersama pasukan dari Turilaya, Bogadenta menjadi panglima perang Kurawa yang berani dan mampu mengobrak-abrik pertahanan Pendawa. Bogadenta bersama gajah Murdaningkung, dan srati Dewi Murdaningsih menjadi pasangan yang menakutkan lawan dan tak terkalahkan. Uniknya, kesaktian mereka terletak pada tetesan air mata. Bila salah satu diantara mereka mati, maka tetesan air mata dari yang lain akan membuat yang mati hidup kembali. Sebuah kesaktian yang tercipta dari kesatuan rasa dan cinta.
Baca SelengkapnyaBogadenta dan Tetesan Air Mata Kehidupan

Suluhan – Gatotkaca Gugur

Setelah burisrawa gugur, kurawa mengangkat adipati karna dari awangga sebagai senopati. Hari sudah gelap, sang surya sudah lama meninggalkan jejak sinarannya di ladang Kurusetra. Harusnya perang dihentikan, masing – masing pihak beristirahat dan mengatur strategi untuk perang esok hari. Namun entah mengapa Kurawa mengirim senopati malam – malam begini.

Adipati Awonggo ngamuk punggung menerabas dan menghancurkan perkemahan pasukan Pandawa di garda depan. Penjaga perkemahan kalang kabut tidak kuasa menandingi krida Sang Adipati Karno. Secepat kilat berita ini terdengar di perkemahan Pandawa Mandalayuda. Sri Kresna tahu apa yang harus dilakukan. Dipanggilnya Raja Pringgondani Raden Haryo Gatotkaca, putra kinasih Raden Brataseno dari Ibu Dewi Arimbi. Disamping Sri Kresna, Raden Brataseno berdiri layaknya Gunung memperhatikan dengan seksama dan waspada pembicaraan Sri Kresna dengan putranya.

”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini”

”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….”

“Waaa………Gatot iya…..“

Sekejap Gatotkaca tidak terlihat. Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan perang Pandawa. Dia tidak mau merusak suasana hati adik – adiknya Pandawa dengan mengutarakan apa yang dirasakannya dengan jujur. Namun perasaan wisnu nya mengatakan Wrekudara harus disiapkan untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti.

“Wrekudoro…“

“Kresna kakangku, iya ….“

“Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri anaknya ??“

“Wah…Kakang seperti anak kecil. Orang berperang itu kalau nggak hidup ya mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“

“Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-2an yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“. Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Wrekudara saja. Paling tidak untuk saat ini, Wrekudara terlihat sangat siap dengan apapun yang terjadi.

Malam gelap gulita, namun di angkasa ladang Kurusetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nyala obor dari ribuan prajurit dua belah pihak yang saling hantam gada, saling sabet pedang, saling lempar tombak, saling kelebat kelewang dan hujan anak panah. Gatotkaca mengerahkan semua kesaktian yang dimilikinya. Dikenakannya Kutang Antakusuma, dipasangnya terompah basunanda, dikeluarkan segala tenaga yang dimilikinya. Terbang mengangkasa layaknya burung nazar mengincar mangsa. Sesekali berkelebat menukik merendah menyambar buruannya. Sekali sambar pululan prajurit Hastina menggelepar tanpa daya disertai terpisahnya kepala – kepala mereka dari gembungnya.

Semenjak lahir, Gatotkaca sudah menunjukkan tanda-tanda kedidgyaannya. Ari – arinya berminggu – minggu tidak bisa diputus dengan senjata tajam apapun. Kuku pancanaka Wrekudara mental, Keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, Semua senjata Amarta sudah pula dicobai. Namun ari – ari sang jabang bayi seperti bertambah alot seiring bertambahnya usia si jabang bayi. Para pinisepuh Amarta termasuk Sri Kresna pun kehabisan reka daya bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi ini.

Maka lelaki kekasih Dewata – Sang Paman Raden Arjuna – menyingkirkan sejenak dari hiruk piruk dan kepanikan di Kesatrian Pringgondani. Atas saran Sri Kresna, Raden Arjuna menepi. Semedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiranya memberikan kemurahannya untuk menolong Pandawa mengatasi kesulitan ini.

Di Kayangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para dewa. Bethara Guru mengutus Bethara Narada untuk memberikan senjata pemotong ari – ari berupa keris Kunta Wijayandanu. Bethara Narada turun dengan membawa senjata Kunta bermaksud menemi Arjuna yang kala itu diiringi oleh para punakawan, abdi tersayang.

Sahdan di tempat lain, Adipati Karno sedang mengadu kepada Ayahnya Dewa Surya, dewanya Matahari. Adipati Karno, memohon welas asih kepada Sang Ayah untuk memberikan kepadanya senjata andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya menyarankan anaknya untuk merampok Senjata Kunta dari Bethara Narada. Karno dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakkanya sangat mirip melebihi saudara kembar. Hanya suara saja yang membedakan keduanya. Maka ketika Adipati Karno dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bathara Narada tidak akan mengenal Adipati Karno lagi melainkan Arjuna.

Kelicikan Dewa Surya tidak cukup di situ. Siang yang terik dan terang benderang itu tiba – tiba meredup seolah menjelang malam. Dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Narada, dewa yang sudah tuwa dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu, semakin rabun karena gerhana ini.

Adipati Karno mencegat Bethara Narada, tanpa perasaan curiga diberikannya senjata Kunta kepada ”Arjuna”. Merasa tugas selesai Narada berniat kembali ke Kahyangan. Ternyata masih ditemuinya Arjuna lagi yang kali ini tidak sendiri melainkan diiring para punakawan. Sadar Narada tertipu, diperintahkannya Arjuna untuk merebut senjata kunta dari Sang Adipati Karno. Perang tanding tak bisa dielakkan, namun hanya warangka senjata yang dapat direbut oleh Arjuna dari kakak tertuanya itu. Dengan warangka senjata itulah ari – ari jabang bayi arimbi yang kelak bernama Raden Gatotokaca dapat diputus. Keanehan terjadi ketika sesaat setelah ari – ari jabang bayi diputus, seketika warangka hilang dan menyatu ke badan si jabang bayi.

Sekarang, saat perang besar terjadi takdir itu sudah sampai waktunya. Senjata Kunta mencari warangkanya, di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, setajam pisau cukur tangannya memancung leher musuhnya. Konon pula otot gatotkaca sekuat kawat tembaga, tulangnya sealot besi tempa. Kesaktiannya ditempa di Kawah Candradimuka. Namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai di sini.

Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendono, paman yang sangat menyawangi Gatotkaca menunggu “sowan ke pengayunan yang Maha Pemberi Hidup”. Begitu sayangnya Kalabendono kepada keponakannya, sukmanya berjanji tidak akan kembali ke asal kehidupan jika tidak bersama sang keponakan.

Di sisi seberang ladang pertempuran, Karno telah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wijayandanu. Dalam hatinya berbisik “Anakku bocah bagus, belum pupus bekas ari – arimu….berani – beraninya kamu menghadapi uwakmu ini. Bukan kamu yang aku tungggu ngger…Arjuna mana? Ya ya ..sama – sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta Wijayandanu”.

Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam melihat gerak – gerik seekor tikus yang baru keluar dari sarangnya. Pun meski dia melihatnya dari jarak ribuan tombak diatas liang tikus itu. Begitu pula, dia tahu apa yang sedang dilakukan Sang Adipati Karno. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada di tubuhnya dan menyokong kekuatannya selama ini. Dicobanya mengulur takdir. Dia terbang diantara awan – awan yang gelap menggantung nun di atas sana. Dicobanya menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan yang berarak – arakan di birunya langit.

Namun takdir kematian sama sekali bukan di tangan makhluk fana seperti dia. Takdir itu sejengkal pun tidak mungkin dipercepat atau ditunda. Sudah waktunya Gatotkaca, sampai di sini pengabdian kesatriaanmu. Kunta Wijayandanu dilepaskan dari busurnya oleh Adipati Karno. Di jagad ini hanya Arjuna yang mampu menyamai keahlian dan ketepatan Basukarno dalam mengolah dan mengarahkan anak panah dari busurnya. Kuntawijandanu melesat secepat kilat ke angkasa, dari Kereta perang Basukarno seolah keluar komet bercahaya putih menyilaukan secepat kilat melesat.

Di angkasa….Kalabendono yang sudah siaga menunggu tunggangan, dengan sigap menumpang ke senjata Kunta. Senjata kunta dan Kalabendono, menghujam ke dada Gatotkaca, membelah jantung Sang Satria Pringgandani. Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap ”Aku mau mati kalau dengan musuh ku….”. Seperti bintang jatuh yang mencari sasaran, jatuhnya badan Gatotkaca tidak lah tegak lurus ke bawah, namun mengarah dan menghujam ke kereta perang Basukarno. Basukarno bukanlah prajurit yang baru belajar olah kanuragan setahun dua tahun. Dengan keprigelan dan kegesitannya, sebelum jasad Gatotkaca menghujam keretanya dia melompat seperti belalang menghindar dari sergapan pemangsa.

Jasad gatotkaca menimpa kereta, Keretapun hancur lebur, pun delapan kuda dengan kusirnya tewas dengan jasad tidak lagi bebentuk. Selesailah episode Gatotkaca dengan perantaraan Uwaknya, Adipati Karno Basuseno.

Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira di kubu kurawa. Para prajurit bersorak sorai mengelu – elukan sang Adipati Karno. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereka meningkat. Keyakinan diri bertambah akan memenangi perang dunia besar yang ke empat ini.

Sebaliknya, kesedihan mendalam tergambar di kubu Pandawa. Wrekudara hampir – hampir tidak mampu menguasai diri ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki sejati…!”. Arimbi, sang ibu, tidak kuasa menahan emosi. Selagi para pandawa meratapi dan merawat jasad Gatotkaca, Arimbi menceburkan ke perapian membara yang rupanya telah disiapkannya. Sudah menjadi tekatnya jika nanti anak kesayangannya mati sebelum kepergiannya ke alam kelanggengan, dia akan nglayu membakar diri. Dan itu dilakukannya sekarang.

Pandawa, dengan demikian kehilangan dua keluarga dekat sekaligus di malam menjelang fajar ini. Wrekudara kehilangan anak tersayang dan istri tercintanya. Namun keturunan tidaklah terputus, karena baik Antareja maupun Gatotkaca telah mempunyai anak laki – laki sebagai penerus generasi Wrekudara.

Fajar menjelang, jenazah Gatotkaca dan abu Arimbi telah selesai diupakarti sesuai dengan ageman dan keyakinan mereka. Sri Kresna sudah bisa menenangkan Wrekudara dan para pandawa yang lain. Sekarang saatnya mengatur strategi. Tugas harus dilanjutkan. Pekerjaan harus diselesaikan, perang harus dituntaskan. Dunia akan segera mengetahui, gunjingan dunia mengenai perang besar antar dua saudara kembar akan segera terjadi siang ini.

Werkudara melihat anaknya, Gatutkaca gugur di Tegal Kurusetra menjadi marah. Werkudara menyapu para Kurawa dengan gada Rujakpolonya. Banyak korban berjatuhan.

Akhirnya Werkudara mendapatkan Dursasana dalam posisi sudah terpojok. Dursasana adalah pendamping Senapati Adipati Karna. Werkudara dan Dursasana berkelahi habis-habisan.

Werkudara teringat waktu Perang dadu. Yaitu tantangan Kurawa bermain judi kepada Pandawa, namun dengan kecurangan Patih Sengkuni maka semua harta benda, Istana sampai dengan Dewi Drupadi menjadi taruhan. Sampai Pandawa menjadi budak. Harus melepaskan seluruh pakaian kerajaan. Sedangkan Dursasana belum puas dengan itu, masih berbuat kurang ajar. Ia menjambak rambut Dewi Drupadi dan menyeret Dewi Drupadi ketengah tengah jkerumunan Kurawa sampai sanggulnya lepas, dan Dursasana berusaha menelanjangi Dewi Drupadi.

Para Pandawa yang telah menjadi budak tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak bisa menolong Dewi Drupadi.Namun atas pertolongan Sanghyang Wisnu, maka setiap lapis kain yang lepas selalu diganti , sehingga Dursasana sampai bercucuran keringat ketika melepas kain Dewi Drupadi. Pakaian Drupadi sudah menumpuk, namun kain yang dibadan Dewi Drupadi tidak pernah habis.

Disinilah Dewi Drupadi bersumpah, bahwa selama hidupnya tidak akan menyanggul rambutnya, sebelum keramas dengan darah Dursasana Sedangkan Werkudara bersumpah untuk membunuh Dursasana dan menghirup darahnya.

Ahirnya Werkudara dengan kekuatan amarah, bagai serigala hutan, memukul Dursasana dengan Gada Rujakpolo. Berkali kali dihantamkannya Gada Rujakpala ke tubuh dan kepala Dursasana, sehingga tubuh dan kepalanya hancur. Werkudara menghirup darah Dursasana untuk memenuhi sumpahnya. Setelah itu dengan sebuah topi baja prajurit,yang tergeletak didekatnya, Werkudara mengambilnya, untuk dijadikan sebagai bokornya, untuk menampung darah Dursasana dan dibawanya pergi menjumpai Dewi Drupadi yang sedang menunggu di perkemahan Tegal Kurusetra. Werkudara memberikan bokor berisi darah Dursasana kepada Dewi Drupadi. Dewi Drupadi segera membasuh rambutnya dengan darah Dursasana, maka Dewi Drupadi telah memenuhi sumpahnya. Dewi Drupadi berterima kasih kepada Werkudara.
Baca SelengkapnyaSuluhan – Gatotkaca Gugur

Karno Basuseno Gugur Sebagi Satria Sejati

Raden Arjuna, satria panengah Pandawa telah berganti busana bagai seorang Raja, mengenakan busana keprabon. Karena keahlian Prabu Kresna dalam ndandani sang adik ipar Arjuna pada kali ini jika diamati tidak ada bedanya dengan kakak tertuanya Adipati Karno. Saking miripnya, Arjuna dan Karno ibarat saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Basukarno kala itu.

Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Basukarno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Basukarno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini. Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan. Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.

Di seberang sana, Kresna telah bersiap sebagai kusir Arjuna. Kereta Kerajaan Dwarapati Kyai Jaladara telah siap menunaikan tugas suci. Delapan Kuda penariknya bukanlah turangga sewajarnya. Kedelapan kuda itu adalah kuda – kuda pilihan Dewa Wisnu yang dikirim dari Kahyangan untuk melayani Sri Kresna. Turangga – turangga itu telah mengerti kemauan dari tuannya, bahkan jika tanpa menggunakan isyarat tali kekang pun. Berbagai medan laga telah dilalui dengan kemengan – demi kemenangan. Bahkan saat Raden Narayana, Kresna di waktu muda, menaklukkan Kerajaan Dwarawati ketika itu.

Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.

Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”

Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna…Kakang rasakan kok kamu seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Menahan tangis sesenggukkan, karena perbuatan sendiri. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa. Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati. Adikku..Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang. Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”

”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”

Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip yang sama secara substansi itu dimulai. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Sekian lama adu jurus kanuragan ini berlangsung. Saling menerjang, saling menghindar dan berkelebat ibarat burung Nasar yang menyasar mangsanya di daratan. Bagi siapa yang melihat, keduanya sama – sama prigel, keduanya sama – sama tangkas dan keduanya sama – sama sakti. Kelebat mereka demikian cepat seperti kilat. Ribuan prajurit kedua pihak menghentikan pertempuran demi melihat hebatnya adegan perang kedua satria bersaudara ini. Namun bagi mereka yang melihat, kabur sama sekali tidak mampu membedakan yang mana Arjuna dan yang mana Karno. Keduanya mirip, keduanya menggunakan busana yang sama. Perawakan dan pakulitan­nya sama. Hanya desis suara masing – masing yang sesekali terucap yang membedakan keduanya.

Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna. Keduanya menghunus keris masing – masing. Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Secepat kilat arjuna menghindar melompat vertikal layaknya belalang menghindar dari sergapan burung pemangsa, Keris Adipati Karno menerjang sasaran hampa, berkelebat berkilat diterpa sinar panas matahari tengah hari. Sejurus kemudian posisi mereka saling bertukar, Arjuna kini menyerang, leher Karno menjadi incaran. Demikian cepat tusukan ini menerobos udara panas menerjang leher Adipati Karno. Namun Adipati Karno tidak kalah cepat dalam berkelit, digesernya leher dan kepalanya menyamping kiri. Tidak hanya menghindar yang dilakukan, penyeranganpun dapat dilakukannya. Sambil menyempingkan badan dan kepalanya ke kiri, tangan kirinya mengirimkan pukulan ke dan mengenai bahu kanan Arjuna. Sedikit terhuyung Arjuna saat mendaratkan kakinya di tanah, meskipun tidak sampai membuatnya roboh. Adipati Karno tersenyum kecil, melihat adiknnya terhuyung. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.

Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya. Di kereta perang Karno, Karno meminta nasehat sang mertua

”Rama Prabu, saya tidak dapat mengalahkan Arjuna saat perang di daratan Rama”

”Karno, aku ini hanyalah Kusir, tanggung jawabku hanyalah mengendalikan kuda. Asal kudanya tidak bertingkah tugasku selesai.”

”Iya benar Romo, namun putra paduka ini mohon pengayoman Rama Prabu Salya”

”E lah, apa kamu lupa kondangnya Raja Awangga itu kalau perang menerapkan kesaktian aji Naraca Bala”

”Terimakasih Rama”

Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan. Kyai Naraca Bala yang telah ditumpangkan pada anak panah menyebabkan anak panah terlepas dan menjadi hujan ribuan anak panah di udara. Anak panah itu berkilatan seperti kilat menjelang hujan turun di musim pancaroba. Tidak cukup itu, ribuan anak panah itu juga mengandung racun mematikan. Jangankan menghujam ke tubuh, hanya menyenggol kulit pun dapat mengakibatkan kemaitan. Tidak heran para prajurit lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari hujan anak panah itu. Pun demikian ratusan prajurit menemui ajal tanpa mampu menyelematkan diri.

Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tiada gores sedikitpun kulit sang Panengah Pandawa. Baginya ratusan anak panak yang menghujam ke tubuhnya tiada beda dirasakan layaknya digiit semut hitam.

Penasaran Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak berarti apa – apa bagi Arjuna, maka dihunusnya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Secepat kilat anak panah Kunta Drewasa sudah terpasangkan di busurnya. Seperti halnya Arjuna, keahlian Karno dalam memanah tiada tanding di dunia ini. Jangankan sasaran diam, nyamuk yang terbang pun dapat dipanah dengan tepat oleh Sang Adipati. Prabu Salya, hatta melihat anak panah sudah siap dilepaskan dan dapat dipastikan tidak akan bergeser seujung rambutpun dari sasaran leher Arjuna, timbul rasa dengki dan serik nya kepada Karno. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang bebarengan dengan dilepaskannya Kunta Drewasa, akibatnya kureta perang mbandang tidak terkendali. Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.

Di sisi lain, Kresna adalah kusir bukan sembarang Kusir. Penghlihatannya sangat presisi, dia tahu apa yang akan dilepaskan oleh Karno. Dia tahu kesaktian dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset dari leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya.

Malu Arjuna karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya terlepas. Dia juga was – was jangan – jangan ini pertanda kekalahannya dalam perang tanding ini. Namun Kresna sekali lagi, bukan hanya pengatur strategi dan penasehat perang bagi Pandawa. Dia juga adalah pamong dan guru spiritual para Satria Pandawa. Dihiburnya Arjuna bahwa ini hanyalah risiko perang. Disambungnyanya rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong harjuna dengan yang lebih bagus.

”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adi Prabu Karno menyelesaikan darma baktinya. Semoga Tuhan menerima bakti dan darmanya adikku. Siapkanlah anak panah pasopati yang busurnya berupa bulan tanggal muda itu. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Karno menuju kebahagiaan sejatinya”

”Sendiko dawuh Kakanga Prabu, mohon do’a restu Kakang Prabu”

Arjuna menghunus Panah Kyai Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tidak ada makhuk jagad yang meragukannya. Galih kayu jati terbaik di jagad pun akan teriris layaknya kue lapis diterjang pisau cukur. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Ibaratnya, Arjuna mampu memanah sasaran dengan membelakangi sasaran itu. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, meski matanya ditutup rapat dengan kain hitam berlipat – lipat, dia akan mampu mengenai sasaran dengan tepat.

Sekarang anak panah telah siap di busurnya. Ditariknya tali busur, dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Sang Kakak, Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, sebentar – sebentar dia menarik napas. Sebentar – sebentar menata hati dan pikirannya. Saat ini yang dituju anak panah adalah leher Adipati Karno. Saudara sekandung lain bapak. Bagaimanapun, susunan tulang, urat, darah dan leher itu dari benih yang sama dengan lehernya. Darah yang mengalir pada Karno adalah dari sumber yang sama dengan darahnya. Putih tulang leher itu dari jenis yang sama dengan putih tulangnya. Urat leher itu, tiada beda dengan bibit pada urat lehernya. Namun, tugas adalah tugas. Darma adalah darma yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dibulatkan tekatnya, dimantapkan hatinya bahwa bukan karena ingin menang dan ingin mengalahkan dia melakukan ini. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.

Di seberang sana, Adipati Karno tahu apa yang akan dilakukan adiknya. Dia sudah dapat mengira apa yang akan terjadi padanya. Kesaktian dan ketajaman pasopati, sudah tidak perlu diragukan lagi. Kulit dan dagingnya tidak akan mampu melawannya. Namun, tidak ada rasa takut dan khawatir yang terlihat pada ronanya menghadapi akhir hidupnya ini. Yang adalah senyum kebahagiaan, karena adik yang dicintainya yang akan mengantarkannya menemuai kebahagian sejati. Sebaliknya bukan rona takut dan pucat terpancar pada wajahnya, namun senyum manis dan bersinar wajah yang terlihat. Semakin kentara indahnya wajah sang Adipati Karno.

Sang Kusir, Prabu Salya melihat apa yang akan dilakukan Arjuna. Ketakutan dan khawatir nampak pada wajah dan sikapnya.

Anak panah dilepaskan dari busurnya oleh Arjuna. ”Ssseeeettttttt”, begitu suaranya tenang setenang Karno dalam menerimanya. Lepasnya panah seperti kilatan petir dari kereta Jaladara. Secepat dia mampu, Prabu Salya melompat dari kereta mengindari bahaya. Anak panah tepat mengenai leher Adipati Karno, putus seketika. Kepala menggelinding ke tanah, badanya menyampir di kereta. Adipati Karno telah sampai pada garis akhir kesatraiannya. Dia telah mendapatkan apa yang diharapkannya. Kematian yang terhormat dalam menegakkan darma bakti satria. Basukarno adalah satria sejatinya satria.

Duka menyelimuti Kurusestra dari pihak Pandawa. Lagi mereka kehilangan saudara yang dicintainya. Meskipun Karno di pihak musuh, sejatinya dia adalah saudara kandung mereka. Tidak terkira bagaimana pedih dan perih yang dirasakan Dewi Kunti. Semenjak lahir, anak sulungnya itu telah dibuangnya ke Sungai Gangga. Jangankan memelihara dan membesarkan, menyusui dan membelai bayinyapun tidak pernah dirasakannya. Belasan tahun dia tidak pernah mendengar kabar lagi mengenai anaknya. Setelah sekian belas tahun tidak ada khabar berita, begitu berjumpa anaknya telah memihak musuh Pandawa, anak – anaknya yang lain. Sekarang saat perang ini terjadi, putra bungsunya telah menjadi bangkai di tangan Arjuna anaknya yang lain.
Baca Selengkapnya Karno Basuseno Gugur Sebagi Satria Sejati