SEMAR

SEMAR/SMARA atau Smarasanta adalah pamong/parampara trah keturunan Witaradya (sejarah keturunan para raja). Semar adalah putra Bathara Wungkuam, yang berarti cucu Sanghang Ismaya. Semar juga merupakan pamukswa/penjelmaan Sanghyang Ismaya, kakeknya sendiri.

Versi lain menyebutkan kalau Semar adalah Sanghyang Ismaya sendiri putra Sanghyang Tunggal, mempunyai 2 saudara yaitu Sanghyang Antaga (Togog), dan Sanghyang Manikmaya (Bhatara Guru).
Semar mempunyai sifat dan perwatakan sabar, longgar, momong (menjaga/mengasuh), bicaranya mengandung fatwa sehat. Dalam cerita pedalangan Semar dikenal sebagai manusia boga sampir.
Berbadan gemuk pendek, rambutnya bekuncung putih, mata rembes, hidung kecil, bibir cabik. Semar menikah dengan Dewi Kanistri, putrid dari Bathara Hira, keturunan Sanghyang Caturwarna, putra Sanghyang Caturkanaka.

Selama hidupnya Semar selalu menjadi pamong/parampara trah keturunan witaradya bersama dengan Bagong, kemudian bertambah dengan Gareng dan Petruk. Ketiga temannya itu kemudian diakuinya sebagai putra angkatnya. Sehari-harinya, Semar berlaku sebagai panakawan biasa, tetapi bilamana perlu ia tidak segan-segan bertindak untuk membenarkan hal-hal yanmg tidak betul, yang terjadi d arcapada. Sebagai pamukswa Sanghyang Ismaya, Semar juga memiliki kebebasan dan keleluasan untuk dating ke Jonggringsaloka bertemu dengan Sanghyang Manikmaya, atau menemui Sanghyang Tunggal di kahyangan Alangalangkumitir.

Sebagai penjelmaan Sanghyang Ismaya, Semar berumur sangat panjang mencapai ribuan tahun. Ia hidup dari jaman Lokapala, Ramayana, Mahabharata dan jaman Parikesit. Bahkan dalam lakon wayang Madya, jaman Sri Jayabaya raja Negara Mamenang, Semar masih dkisahkan, tetapi sudfah menjadi sangat tua sekali.

0 comments:

Post a Comment