STANU

SANGHYANG STANU dikenal sebagai dewa hutan. Menurut kitab ―Mahabharata‖ , Sanghyang Stanu termasuk satu dari delapam dewa yang lahir dari sebuah telur ajaib yang dikena dengan nama ―Antiga Mahadwipa‖. Ketujuh dewa lainnya adalah Sanghyang Pitamaha, Sanghyang Prajapati, Sanghyang Sutaguru, Sanghyang Manu dewa laut, Sanghyang Ka, Sanghyang Pracetas atau Sanghyang Parameswara yang dikenal sebagai dewa lambang kemuliaan dan kejayaan, dan Sanghyang Daksa.

Sanghyang Stabu sangat sakti dan berwatak keras hati sesuai dengan tempat tinggalnya di hutan dan bergaul dengan golongan asura. Bersama Resi Pulastya dan Resi Yogiswara -- pada jaman Lokapala, Sanghyang Manu bertugas memberi perlindungan serta pertolongan kepada semua makhluk yang hidup di lautan.

Sanghyang Stanu menikah dengan Dewi Arumdanu, bidadari keturunan Sanghyang Triyarta. Dari perkawinan ini lahir beberapa orang anak diantaranya para raksasa serta makhluk hutan yang berujud aneh-aneh, seperti raksasa berkepala singa, manusia berkala lembu atau sapi dan lain sebagainya. Makhkuk-makhluk aneh keturunan Sanghyang Manu yang terkenal dalam cerita pedalangan karena kesaktiannya dan perbutannya yang menggegerkan jagad raya antara lain : Maesasura dan Lembusura, raja dan patih negara Kiskenda yang pernah menyerang kahyangan karena ingin memperistri Dewi Tari, bidadari putri Sanghyang Brahma. Maesasuta mati oleh Resi Subali, sedangkan Lembusura mati dalam peperangan melawan Sugriwa.

0 comments:

Post a Comment