Penderitaan Bima-2

“Ayolah Ananda Bima, kita makan segera, semua orang juga sudah makan” Kata Arya Sakuni memulai percakapan setelah mereka duduk di kursi menghadap meja di bawah pohon di tepi sungai Gangga.

“Ya paman memang nikmat sekali makan di tempat seperti ini” Sahut Bima

Citraksa dan Citraksi segera mengambil tempat, dan mulai mengambil makanan seolah semua makanan disitu layak untuk di makan.

“Ah makanan ini nikmat sekali, cobalah kakang Bima” Kata Citraksi mengulurkan makanan yang dimakannya. Bima mengambil makanan itu dan mencobanya..

“Ah betul memang enak sekali Dinda ” Bima menimpali. Selanjutnya mereka makan dengan lahap. Namun ketiga orang itu makan dengan memilih makanan dari piring yang tidak diberi tanda. Sedangkan Bima telah mencoba semua makanan yang dihidangkan.

Sesaat dirasakannya ada rasa agak pahit dan aneh pada salah satu makanan yang sedang dikunyahnya. Namun untuk menghormati tuan rumah yang menyediakan makanan, dia menelannya semua. Arya Sakuni melirik kepada Kedua keponakannya, mereka saling memandang sesaat, namun segera berpura-pura melanjutkan makannya.

Beberapa saat kemudian Bima merasa pandangannya berkunang-kunang “Hoooy apa yang terjadi dengan kepalaku paman? kenapa aku tiba-tiba pusing? ”

Ada Apa Bima, kamu kenapa ? Arya Sakuni berpura-pura datang menolong. Namun kalimat itu tidak dijawab oleh Bima karena dia telah terkulai di kursi makannya. Arya Sakuni memberi tanda kepada Citraksa dan Citraksi untuk berjaga jaga di sekitar meja itu jangan sampai ada yang melihatnya. Memang letak meja makan mereka agak terpisah dari meja lainnya.

Suyudana yang dari kejauhan menatap meja dimana Bima makan telah melihat bahwa Bima telah pingsan. Maka dia segera meminta diri kepada Puntadewa, bahwa dia mau menemui seseorang sebentar. Puntadewa yang tidak pernah mencurigai seseorang mengangguk. “Silahkan saudaraku” Jawab Puntadewa.

Suyudana bergegas menuju ke tempat dimana Arya Sakuni, Citraksa dan Citraksi berkumpul di tepi sungai Gangga. Datang kemudian Dursasana dan segera dia berbisik-bisik sebentar kepada saudara-saudaranya mencari akar-akar pohon yang liat namun kuat.

Setelah terkumpul Suyudana segera mengikat tubuh Bima yang kekar tapi sedang lemas tak berdaya itu dengan akar-akar hingga melilit tubuhnya dari bahu hingga kaki.

Suyudana dan Dursasana berdua mengangkat tubuh Bima namun masih kurang kuat juga akhirnya Citraksa dan Citraksi ikut membantu mengangkat tubuh Bima yang berat itu. Setelah diayun-ayun mereka berempat melemparkan tubuh Bima hampir ketengah sungai Gangga yang sedang deras mengalir.

Bima yang sesaat tersadar dari pingsannya pada saat terbawa arus mengalir melihat sekelompok orang, Kurawa!, nampak Suyudana tersenyum menyeringai dan Dursasana yang tertawa-tawa. Kemudian didengarnya suara-suara arus deras sungai Gangga, sesaat kemudian kepalanya terasa terbentur sesuatu yang keras. Kemudian semua menjadi gelap lagi. … Ah Duhai Para Dewa lindungilah aku … Jiwa Bima berbisik……

Suyudana yang merasa rencananya telah berhasil, berjalan kembali ke Meja Puntadewa. Sesaat Puntadewa melihat raut muka puas pada Suyudana, namun dia tidak tahu apa sebabnya. Dari tadi tidak dilihatnya si Bima adiknya……

Dari jauh Suyudana melihat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan para punggawa istana. Sedang para undangan lain juga sudah selesai dengan santapan mereka masing-masing. Nakula dan Sadewa sedang berjalan-jalan melihat sekitar Istana. Tidak lama setelah itu para undangan dan kerabat istana telah mulai meminta diri kepada Prabu Suyudana ayahnya.

Bagai disambar petir, Suyudana terkaget-kaget ketika ibunya Dewi Gendari bertanya: “Anakku Suyudana apakah kamu melihat Bima saudaramu?”
“Ah aku tadi melihatnya sedang makan dengan Paman Sakuni” jawab Suyudana
“Dari tadi ibunya menanyakan dan mencarinya, karena Pandawa dan Ibunya sudah mau berpamitan untuk kembali kerumah”.

“Cobalah tanya pada Paman Arya Sakuni ibu.” jawab Suyudana.

Sesaat kemudian Ibunya Dewi Gendari menemui Dewi Kunti Ibu Bima dan berbincang-bincang, kemudia mereka berjalan menuju tempat yang sama. “..Ah pasti mereka mencari Paman Arya Sakuni ” pikir Suyudana.

Ditengah jalan Dewi Kunti dan Dewi Gendari berpapasan dengan Puntadewa. ” Anakku Puntadewa, apakah kamu melihat adikmu Bima?” tanya Dewi Kunti

” Tidak Ibu, bahkan aku juga sedang mencarinya..” Jawab Puntadewa.

” Kalau begitu lanjutkanlah mencari, Ibu juga akan menanyakannya pada Paman Arya Sakuni ” Lanjut dewi Kunti

Dalam keadaan pesta yang baru usai, para undangan yang berpamitan, Dewi Kunti semakin gelisah.., Teringat lagi dia dengan penglihatannya yang melihat Citraksa yang memegang tempat wadah itu …. Apakah ada hubungannya ? Memang Pandawa dan Kurawa itu bersaudara, namun dia telah paham sifat-sifat anak Dastarata yang rata-rata tidak baik, pengiri, pendendam, usil dan jahat.

Sampai hampir sore Bima tidak diketemukan juga. Dewi Kunti mulai merasakan kebenaran perasaannya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Bima anaknya. Aku ibunya bisa merasakan apa saja yang terjadi dengan anak-anak ku. Desahnya dalam hati. Si Sakuni yang ditanya tadi hanya menjawab bahwa ia melihat Bima tertidur di bangku setelah kekenyangan makan. Selanjutnya dia tidak tahu apa-apa.

Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa telah berkumpul dan akhirnya si Sulung Puntadewa menghibur Ibunya dan berkata
“Ibu, mungkin adik Bima telah mendahului kita pulang ke rumah, dia tadi berangkat tidak bersama-sama dengan kita, dia berlari sampai ke tempat ini, sedang kita semua naik kereta. Barangkali dia telah bosan dengan suasana pesta dan ingin pulang lebih dahulu.”

“Ya ibu, sebaiknya marilah kita pulang dan memastikan hal itu” sambung Arjuna.

Dewi Kunti hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka segera meminta diri kepada Dastarata yang berjanji untuk membantu mencari Bima. Sambil menenangkan Dewi Kunti.

” Kakanda Mbakyu Kunti, dia kan sudah besar, pasti sudah bisa menjaga diri, dan dapat pulang ke rumah sendiri” Hibur Dastarata.

“….Ya semoga para Dewa melindunginya …” pikir Dewi Kunti dalam hati.

Selanjutnya mereka menaiki kereta yang akan membawa mereka pulang. Kereta itu berjalan pelan meninggalkan istana kerajaan Astina. Dari kejauhan nampak beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian mereka dengan was-was dan puas.

Dalam keadaan terapung dan terseret serta pingsan, Bima terbawa oleh arus sungai sampai pada suatu daerah yang tidak berpenghuni, semakin-lama semakin sunyi. Hampir semalaman Bima Pingsan dan terseret-seret, terbentur bentur, pingsan, sadar, pingsan lagi,sadar lagi namun hari telah gelap, hujan juga turun dengan derasnya dan tubuhnya terikat kuat.

Lama-kelamaan gesekan-gesekan akar dengan batu-batu kali sungai gangga sedikit melepaskan ikatannya.

Pengkhianatan Di Balai Sagala-gala
Pandawa mengetahui bahwa Suyudana telah diangkat menjadi raja.
Pandawa tenang dan sabar.
Kurawa khawatir kalau Pandawa kelak akan menuntut haknya.
Suyudana dan para kurawa dan merencanakan untuk membinasakan Pandawa
Prabu kurupati duduk dipaseban dihadap oleh Patih Arya Sakuni, Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka membuat rencana jahat dengan mengundang Pandawa ke pesanggrahan batas kota yang disebut Balai Sagala-gala.

Pandawa diundang hadir ke Balai Sagala-gala untuk membicarakan pembagian negara Astina. Pesanggrahan tersebut dibuat seluruhnya dari bambu yang didalamnya diisi dengan obat sandawa. Dengan rencana bahwa bila Pandawa dalam keadaan berpesta dan mabuk-mabukan akan pesanggrahan itu akan di bakar.

Pandawa, terutama Puntadewa yang tidak menaruh curiga menghadiri acara itu.
Dewi Kunti was-was sejak terjadinya peristiwa Bima yang diceburkan di Sungai Gangga, dia tidak percaya lagi pada Kurawa, oleh karenannya dia merasa perlu ikut.

Didalam Pesanggrahan itu berlangsung pesta besar-besaran. Ada yang bermain Kartu adan yang bermain dadu ada yang mabuk-mabukan.

Hanya Bima atau Bratasena yang tetap waspada. Semenjak peristiwa dirinya diracun, dia tidak pernah percaya lagi pada Kurawa terutama pada Suyudana.
Bima yang waspada berpura-pura buang air, untuk menyelidiki rencana jahat apa yang akan dilakukan Kurawa.

Ditempat sepi Bima didatangi oleh Batara Narada secara diam-diam yang menyatakan kalau nanti ada seekor binatang garangan putih, agar diikuti saja kemana perginya, agar keluarga pendawa selamat.

Pandawa ditantang main Dadu oleh Kurawa. Prabu Kurupati melawan Suyudana
Taruhan judi adalah kalau Kurupati kalah ia akan memberikan negeri Astina, sedangkan kalau Puntadewa kalah ia harus menyerahkan nyawa.
Dalam permainan itu Prabu Kurupati berkali-kali kalah.

Patih Sakuni yang tahu keaadaan Suyudana rajanya dalam keadaan terdesak secara curang memutar dadu, hal ini diketahui oleh Dewi Kunti.
Dewi Kunti marah, Sakuni dikatakannya Setan.
Patih Sakuni mundur, marah dan dendam sekali.
Patih Sakuni melihat bahwa para Pendawa hampir semuanya dalam keadaan mabuk.
Patih Sakuni segera memerintahkan para kurawa untuk segera membakar uceng-uceng. Pesanggrahan Balai Sagalagala terbakar.

Setelah api menjalar para Kurawa yang bertugas menyelamatkan Prabu Suyudana segera bertindak mengamankan Prabu ketempat yang telah dipersiapkan.

Melihat pesanggrahan terbakar hebat Bratasena segera masuk dan memeluk ibunya, kakaknya dan adiknya untuk menyelamatkan diri dari amukan api. Arjuna dan Puntadewa dalam keadaan mabuk dan pusing.

Pandawa diselamatkan dari Balai Sagala oleh Batara Narada. Tiba-tiba Bratasena melihat ada binatang garangan putih. Sesuai dengan pesan Hyang Narada, Bratasena mengajak ibu dan saudara-saudaranya untuk mengikuti kemana perginya binatang itu. Binatang itu ternyata memasuki lobang tanah. Bratasena membawa ibu dan saudara-saudaranya memasuki lobang tersebut. Mereka selamat.

Pesanggrahan itu setelah terbakar hebat, maka roboh. Prabu Suyudana pura-pura menangis dan mengira semua Pendawa dan Ibunya telah tumpas, termasuk bibinya Dewi Kunti.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Contact

Nama

Email *

Pesan *