Raden Barata

Raden Barata adalah anak Raja Ayodya, Prabu Dasarata dari istri Dewi Kekayi. Meski sesungguhnya bukan putra mahkota, namun ia diusulkan oleh ibunya untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Bagaimana kisahnya?

Tersebutlah di negara Ayodya. Meski rajanya, Prabu Dasarata sudah beristri cantik Dewi Kausalya (Ragu), namun masih ingin mempersunting wanita lain. Memang, mula-mula sang raja begitu gusar karena sudah bertahun-tahun menikah, belum juga dikaruniai keturunan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum kunjung berhasil.

Hidup menjadi raja dengan disanding istri cantik, pertama-tama memang menyenangkan. Namun, karena belum punya anak maka hidupnya terasa hampa. Padahal, menurut tabib istana, Prabu Dasarata dan Dewi Ragu sama-sama sehat dan tidak mandul. Saking pusingnya, sang raja sering pergi jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.

Secara kebetulan, Prabu Dasarata bertemu dengan Dewi Kekayi, salah seorang putri negara tetangga. Perasaan hampa sang prabu terasa terisi oleh kecantikan dan senyum manis sang dewi. Tak hanya perasaan simpatik yang menyelimutinya. Tapi juga cinta yang begitu mendalam. Meski Dewi Kekayi setengah jual mahal, namun wanita ini juga memberikan ‘tanda lampu hijau’ pada Prabu Dasarata.

Dewi Kekayi pun menuruti keinginan Prabu Dasarata. Namun, putri jelita ini memasang jerat (jebakan). Sebab, ia bersedia menjadi istri Prabu Dasarata dengan syarat kalau punya keturunan, anaknya itulah yang harus menggantikan Prabu Dasarata sebagai Raja Ayodya. Tanpa sadar, Prabu Dasarata pun menyanggupinya.

Akhirnya, jadilah Dewi Kekayi sebagai istri kedua Prabu Dasarata. Putri cantik jelita yang kemayu ini pun diboyong ke istana Kerajaan Ayodya. Meski menjadi istri kedua, diam-diam ia ingin selalu tampil dan mendapat perhatian lebih ketimbang Dewi Kausalya.

Nyaris Lupakan Janji

Selang beberapa tahun, ternyata para istri dan selir Prabu Dasarata mengandung dan melahirkan. Dari Dewi Kausalya lahir bayi laki-laki diberi nama Raden Rama. Dari Dewi Kekayi lahir bayi laki-laki diberi nama Raden Barata. Dari istri-istri yang lain lahir juga bayi laki-laki, diberi nama Raden Laksmana Widagdo dan Raden Satrugna.

Setelah anak-anaknya dewasa, Prabu Dasarata merasakan usianya sudah semakin tua (lanjut). Ia bermaksud untuk lengser keprabon (mengundurkan diri) dan menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua dari permaisuri (istri pertama) yakni Raden Rama yang terlahir dari Dewi Kausalya.

Semua punggawa dan keluarga kerajaan pun menyetujuinya. Apalagi, kini Raden Rama sudah punya istri, Dewi Sinta, putri dari Kerajaan Mantili. Dengan demikian, sudah sangat pantas untuk dinobatkan sebagai raja. Apalagi, Raden Rama tidak saja dikenal tampan dan berbudi pekerti luhur. Tapi juga, sangat sakti, ahli berperang dan sangat memahami ilmu ketatanegaraan.

Menjelang penobatan Raden Rama menjadi raja, tiba-tiba muncul Dewi Kekayi yang melakukan aksi protes. Dengan lantang dan sangat berani, Dewi Kekayi membeberkan masa lalunya bersama Prabu Dasarata. Padahal, ketika itu di tengah-tengah pasewakan (pertemuan) agung kerajaan. Sesuai janji Prabu Dasarata, maka Barata yang lebih berkah menjadi raja.

Betapa terkejutnya Prabu Dasarata mendengar protes Dewi Kekayi. Rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Dengan penuh keterpaksaan, Prabu Dasarata mengabulkan protes itu. Di luar dugaan, ternyata Dewi Kekayi masih minta syarat tambahan. Apa itu? Menurutnya, belum cukup aman jika keputusannya hanya menobatkan Barata menjadi raja. Kalau Rama masih di istana kerajaan, maka dia bisa mengganggu. Karena itu, ia minta agar Rama dan istrinya diusir dan dibuang ke hutan selama 13 tahun. Setelah itu, barulah boleh kembali pulang ke istana.

Keketusan Dewi Kekayi terasa menghantam hati Prabu Dasarata yang sudah tua. Penyakit jantungnya pun langsung kambuh. Sang raja lanjut usia itu pun jatuh pingsan. Hingga akhirnya tak bangun-bangun, karena menghembuskan nafas yang terakhir alias mangkat. Seluruh keluarga Ayodya pun meratapi kematiannya.

Ternyata, Raden Barata tidak bersedia dinobatkan menjadi Raja Ayodya. Ia tahu diri, bahwa dirinya bukan putra mahkota. Ia tidak sependapat dengan ibunya. Sebab, yang sesungguhnya putra mahkota adalah Raden Rama. Maka, meski Raden Rama dan istrinya, Dewi Sinta, yang dikawal Raden Laksmana menjalani hidup sebagai orang buangan di hutan belantara, Raden Barata tetap menyusulnya. Secara khusus ia minta kepada Raden Rama untuk kembali ke istana dan dinobatkan menjadi raja. Tapi, Raden Rama menolaknya. Raden Barata pun sungkem dan menangis di pangkuan kakak sulungnya itu. Barulah Raden Rama melontarkan sebuah kebijakan: memberikan sepasang terompahnya sebagai simbol (wakil) dirinya menjadi ‘raja’ yang diemban oleh Raden Barata. Barulah Raden Barata menerima dan kembali ke istana Ayodya.
0

Baca SelengkapnyaRaden Barata

Lahirnya Rahwana

Berbulan-bulan di Lokapala Danaraja menunggu datangnya sang ayah yang diharapkan membawa kabar bahagia. Ia telah mendengar kabar bahwa sayembara Dewi Sukesi telah berhasil dimenangkan oleh Resi Wisrawa. Sampai suatu saat Wisrawa dan Sukesi sampai Lokapala.Dengan sukacita Danaraja menyambut keduanya. Namun Wisrawa datang dengan wajah yang kuyu dan kecantikan sang dewi yang diagung-agungkan banyak orang itu tampak pudar. Danaraja, merasa mendapatkan suasana yang tidak nyaman, kemudian bertanya pada ayahnya. Di depan istri dan putranya, Wisrawa menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan secara terus terang mengakui segala dosa dan kesalahannya. Namun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang amat teramat fatal dimata Danaraja. Mendengar penuturan ayahnya, Prabu Danaraja menjadi sangat kecewa dan marah besar. Danaraja tidak dapat mempercayai bahwa ayahnya tega mencederai hati putra kandungnya sendiri. Kemarahan itu sudah tak
terbendung. Danaraja lalu mengusir kedua suami-istri tersebut keluar dari negara Lokapala.Akhirnya dengan penuh duka, sepasang suami istri itu kembali ke negara Alengka.

Dalam perjalanan kembali menuju Alengka, Dewi Sukesi yang sudah mulai hamil itu tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga tampak kuyu dan pucat. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan, tiba saat melahirkan. Di tengah hutan belantara padat, Dewi Sukesi tak kuasa lagi menahan lahirnya sang bayi. Akhirnya lahirlah jabang bayi itu dalam bentuk gumpalan daging, darah dan kuku. Dewi Sukesi terkejut juga Resi Wisrawa. Gumpalan itu bergerak keluar dari rahim sang ibu menuju kedalam hutan. Kesalahan fatal dari dua orang manusia menyebabkan takdir yang demikian buruk terjadi. Gumpalan darah itu bergerak dan akhirnya menjelma menjadi seorang putra bayi berupa raksasa, seorang bayi laki-laki raksasa sebesar bukit dan satu orang bayi perempuan yang ujud tubuhnya ibarat bidadari, tetapi wajahnya berupa raksasa perempuan.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Sang Penguasa Alam. Ketiga bayi itu lahir ditengah hutan diiringi lolongan serigala dan raungan anjing liar. Auman harimau dan kerasnya teriakan burung gagak. Suasana yang demikian mencekam mengiringi kelahiran ketiga bayi yang diberi nama Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Dengan kepasrahan yang mendalam, Wisrawa dan Sukesi membawa ketiga anak-anaknya ke Alengka. Tiba di Alengka, Prabu Sumali menyambut mereka dengan duka yang sangat dalam. Kesedihan itu membuat Sang Prabu raksasa yang baik hati ini menerima mereka dengan segala keadaan yang ada. Di Alengka Wisrawa dan Sukesi membesarkan ketiga putra-putri mereka dengan setulus hati.

Rahwana dan Sarpakenaka tumbuh menjadi raksasa dan raksesi beringas, penuh nafsu jahat dan angkara. Rahwana tampak semakin perkasa dan menonjol diantara kedua adik-adiknya. Kelakuannya kasar dan biadab. Demikian juga dengan Sarpakenaka yang makin hari semakin menjelma menjadi raksasa wanita yang selalu mengumbar hawa nafsu. Sarpakenaka selalu mencari pria siapa saja dalam bentuk apa saja untuk dijadikan pemuas nafsunya. Sebaliknya Kumbakarna tumbuh menjadi raksasa yang sangat besar, tiga sampai empat kali lipat dari tubuh raksasa lainnya. Ia juga memiliki sifat dan pribadi yang luhur. Walau berujud raksasa, tak sedikitpun tercermin sifat dan watak raksasa yang serakah, kasar dan suka mengumbar nafsunya, pada diri Kumbakarna.

Namun perasaan gundah dan sedih menggelayut di relung hati Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ketiga putranya lahir dalam wujud raksasa dan raksesi. Kini Dewi Sukesi mulai mengandung putranya yang keempat. Akankah putranya ini juga akan lahir dalam wujud rasaksa atau raseksi? Dosa apakah yang telah mereka lakukan? Ataukah akibat dari gejolak nafsu yang tak terkendali sebagai akibat penjabaran Ilmu Sastrajendra Hayuningrat yang telah dilakukan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi?

Sadar akan kesalahannya yang selama ini terkungkung oleh nafsu kepuasan, Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, istrinya untuk bersemadi, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pencipta, serta memohon agar dianugerahi seorang putra yang tampan, setampan Wisrawana/Danaraja, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati, yang kini menduduki tahta kerajaan Lokapala. Sebagai seorang brahmana yang ilmunya telah mencapai tingkat kesempurnaan, Resi Wisrawa mencoba membimbing Dewi Sukesi untuk melakukan semadi dengan benar agar doa pemujaannya diterima oleh Dewata Agung. Berkat ketekunan dan kekhusukkannya bersamadi, doa permohonan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi diterima oleh Dewata Agung. Setelah bermusyawarah dengan para dewa, Bhatara Guru kemudian meminta kesediaan Resi Wisnu Anjali, sahabat karib Bhatara Wisnu, untuk turun ke marcapada menitis pada jabang bayi dalam kandungan Dewi Sukesi.

Dengan menitisnya Resi Wisnu Anjali, maka lahirlah dari kandungan Dewi Sukesi seorang bayi lelaki yang berwajah sangat tampan. Dari dahinya memancar cahaya keputihan dan sinar matanya sangat jernih. Sebagai seorang brahmana yang sudah mencapai tatanan kesempurnaan, Resi Wisrawa dapat membaca tanda-tanda tersebut, bahwa putra bungsunya itu kelak akan menjadi seorang satria yang cendekiawan serta berwatak arif bijaksana. la kelak akan menjadi seorang satria yang berwatak brahmana. Karena tanda-tanda tersebut, Resi Wisrawa memberi nama putra bungsunya itu, Gunawan Wibisana.

Karena wajahnya yang tampan dan budi pekertinya yang baik, Wibisana menjadi anak kesayangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dengan ketiga saudaranya, hubungan yang sangat dekat hanyalah dengan Kumbakarna. Hal ini karena walaupun berwujud raksasa, Kumbakarna memiliki watak dan budi yang luhur, yang selalu berusaha mencari kesempurnaan hidup.

Nun jauh di negara Lokapala, Prabu Danaraja masih memendam rasa kemarahan dan dendam yang sangat mendalam kepada ayahnya. Hingga detik ini dia masih tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang dianggapnya mengkhianati dharma bhaktinya sebagai anak. Sang Resi Wisrawa sebagai ayah dianggapnya telah menyelewengkan bhakti seorang anak yang telah dengan tulus murni dari dalam bathin yang paling dalam memberikan cinta dan kehormatan pada ayah kandung junjungannya.

Rasa ini benar-benar tak dapat ia tahan hingga suatu saat Prabu Danaraja mengambil sikap yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Prabu Danaraja lalu mengerahkan seluruh bala tentara Lokapala dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Alengka dan membunuh ayahnya sendiri yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi dimatanya. Alengka dan Lokapala bentrok dan terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang ditujukan hanya untuk dendam seorang anak pada ayahnya.

Resi Wisrawa tidak dapat diam melihat semua ini. Ribuan nyawa prajurit telah hilang demi seorang Brahmana tua yang telah penuh dengan dosa. Wisrawa segera turun ke tengah pertempuran dan menghentikan semuanya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Danaraja, anaknya sendiri. Dengan mata penuh dendam, Danaraja mengibaskan pedang senjatanya ke badan Wisrawa. Darah mengucur deras, Wisrawa roboh di tengah-tengah para prajurit kedua negara.

Melihat Resi Wisrawa tewas dalam peperangan melawan Prabu Danaraja, Dewi Sukesi berniat untuk membalas dendam kematian suaminya. Rahwana yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, dicegah oleh Dewi Sukesi. Kepada keempat putranya diyakinkan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Prabu Danaraja yang memiliki ilmu sakti Rawarontek. Untuk dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Danaraja. Mereka harus pergi bertapa, mohon anugrah Dewata agar diberi kesaktian yang melebihi Prabu Danaraja, yang sesungguhnya masih saudara satu ayah mereka sendiri, sebagai bekal menuntut balas atas kematian ayah mereka. Berangkatlah mereka melaksanakan perintah ibunya.
Baca SelengkapnyaLahirnya Rahwana

Karna Tak Tergoyah Rayuan Ibunya

Namanya Cukup dikenal sebagai seorang Adipati yang gagah perkasa dari negeri Awangga bawahan kerajaan Astinapura. Ia memiliki sebuah senjata tumbak yang sangat ampuh bernama Konta. Karena ampuhnya senjata ini hanya dapat digunakan sekali saja, kemudian akan kmbali kepada pemiliknya yakni Batara Indra.

Ketika bayi ia diketemukan oleh Rada, istri Adirata kusir kereta serta diakui sebagai anaknya dan diberi nama Karna Radea, artinya Karna anak Rada.

Setelah dewasa Karna sering menonton Kurawa dan Pandawa berlatih menggunakan senjata panah dibawah asuhan gurunya, Dorna. Ia sangat tertarik dengan pelajaran ilmu menggunakan senjata panah dan sangat ingin menjadi siswa perguruan itu. Tetapi ia sadar bahwa itu tidak mungkin, karena ia hanya anak seorang kusir kereta, sedang Kurawa dan Pandawa adalah keluarga kerajaan.

Karena keinginan untuk menjadi seorang pemanah yang mahir tetap menggelora di dalam jiwanya, maka secara iam-diam ia menonton sambil mempelajari cara-cara melepas anak panah seperti diajarkan Dorna kepada siwa-siswanya. Berkat kemauan yang keras ditunjang kecerdasan yang luar biasa, akhirnya karna mahir menggunakan senjata, bahkan melebihi kepandaian kaum Kurawa atau sejajar dengan Arjuan yang merupakan siswa terbaik dalam perguruan itu.

Suatu hari perguruan mengadakan ujian praktik bagi siswa-siswanya, di mana kedua golongan yang masih bersaudara itu harus mengadu kemahiran menggunakan senjata panah. Ternyata dalam adu kemahiran itu, Pandawa tampak lebih unggul dari kaum Kurawa.

Waktu itu Sakuni adik Gandari ibunda Kurawa tengah berusaha menanamkan benih-benih kebencian kaum Kurawa kepada Pandawa mengenai hak pemilikan tahta kerajaan Astina agar tidak jatuh ke tangan Pandawa. Sedangkan udhistira telah ditetapkan oleh Dewa sesepuh kerajaan sebagai calon raja Astina. Karena itu kebencian Kurawa semakin menjadi manakala setiap adu kemahiran anak-anak Gendari itu selalu dikalahkan oleh anak-anak Kunti.

Karna yang waktu itu turut menonton sudah tidak tahan lagi ingin turut dalam pertandingan. Maka tanpa pikir panjang lagi, ia nyelonong masuk gelanggang minta kepada Dorna supaya diperkenankan ikut bertanding dan sanggup mengalahkan Arjuna. mendengar kata-kata sombong itu, Bima naik pitam dan mencaci maki karna: "Hei, kau anak yang tidak diketahu ibu bapaknya, tidak pantas ikut bertanding. Kau hanya anak pungut kusir kereta lebih pantas pgang cambuk dan memandikan kuda," bentaknya. Caci maki itu sangat menyakitkan hatinya, hampir-hampir ia jatuh pingsan karena malu dicaci di hadapan orang banyak.

Karena itu Duryudana melihat potensi dan keberanian si anak kusir demikian hebat lalu dibelanya dan ketika itu juga Karna diangkat menjadi Adipati di negeri Awangga. Pengangkatan itu beresifat politis, karena potensi Karna dapat dijadikan andalan dalam menghadapi Pandawa, sekaligus menambah kekuatan dalam kampanye merebut tahta kerajaan Astina. Tentu saja si anak kusir itu sangat gembira dan dengan spontan di hadapan Duryudana ia bersumpah akan membela Kurawa samapi tetes darah yang penghabisan.

Sementara itu Dewi Kunti yang hadir mnyaksikan pertandingan hatinya senang bercampur seih melihat anak yang dulu dihanyutkan di sungai masih hidup dan telah menjadi seorang ksatria yang gagah dan tampan. Sedih karena tidak dapat menemui karena takut rahasianya diketahui. Yang lebih merisaukan hatinya, Kunti mendengar sumpah karna akan memebela Kurawa. Timbul kekhawatiran bahwa kedua anak kandungnya akan saling bermusuhan. Kekhawatiran itu menjadi kenyataan dengan akan terjadinya pertumpahan darah antara Pandawa dan Kurawa dalam perang Baratayudha. Segera Kunti berunding dengan Kresna untuk mencegah Karna terlibat memerangi saudara kandungnya sendiri. Satu-satunya jalan Kunti harus membuka rahasia kepada Karna, bahwa dialah ibunya dan Pandawa adalah saudara kandungnya. Maka bergegaslah Kunti menemui Karna, di mana sebelumnya Kresna pun telah menemui Adipati Karna.

Kunti : "Raden, engkau adalah anakku, darah dagingku yang ketika bayi ibu hanyutkan di sungai, hingga ibu menemukannya kembali, tatkala engkau masuk gelanggang pertandingan menantang Arjuna."

Karna : "Hamba sudah mendengar dari kanda Kresna, bahwa ada seorang anak bernasib buruk dibuang oleh ibunya untuk menghindari malu."

Kunti : "Maafkan ibu nak. Ketika itu tak ada jalan lain. Tetap ibu pun tidak mengerti mengapa harus melahirkan engkau. Semua itu rahasia Dewa," kilahnya.

Karna : "Lho, mengapa ibu harus minta maaf kepada hamba? Antara kita tak ada hubungan sama sekali dengan peristiwa dibuangnya si bayi itu. Hama anak ibu Rada dan ayahanda Adira kusir kereta desa."

Kunti : "Ibu memang tak ada hak atas dirimu. Tapi bagaimanapun engkau adalah darah dagingku, raden. Dan Pandawa adalah adik-adikmu sekandung. Hati ibu akan hancur menyaksikan anak-anak kandungku saling membunuh," katanya dengan suara sendu.

Karna : "Andaikan benar hamba putra kandung ibu, mengapa ibu begitu tega membuang hamba bagai sampah tak berharga. Itu berarti ibu telah menyerahkan hamba kepada masa lalu dan tiadak hak memiliki hamba. Karena itu janganlah berharap keinginan ibu akan terpenuhi. Hamba telah bersumpah di hadapan Duryudana, bahwa hamba akan membela Kurawa hingga tetes darah yang penghabisan. Seorang satria harus memegang teguh kata-katanya."

Kunti menangsi tersedu dengan penyesalan yang tiada hingga. Tetapi air mata tak mampu meluluhkan hati Karna. Dia seorang ksatria yang teguh memeggang janji dan sumpah. Sementara itu Karna pun tak kurang sedihnya melihat Kunti terluka hatinya. Kemudian dia berkata:

Karna : "Terlepas engkau ibu kandungku atau bukan, yang pasti hamba berterima kasih bila ibu mengakui hamba sebagai putra kandung ibu. Akan halnya hamba dibuang ketika masih bayi, itu adalah sudah kehendak Dewata semata-mata. Bukankah tadi ibu mengatakan tidak mengerti mengapa melahirkan hamba? Tetapi kini ibu masih dapat bertemu dengan hamba."

Kunti : "Oh Raden, ibu gembira mendengar pengkauanmu dan harus dengan cara apa, ibu harus berterima kasih kepada ibu Rada dan bapak Adiratam hanya Dewatalah yang mampu membalas kebaikan mereka. Tapi satu hal yang masih mengusik hati ibu, ialah kau akan berperang dengan adik-adikmu Raden."

Karna : "Apabila hamba harus lari dari kenyataan meninggalkan Duryudana yang telah berbaik hati kepada hamba, makan hamba akan tercatat sebagai orang yang berprilaku buruk , karena tidak menepati janji dan sumpahnya. Hamba mengakui bahwa hamba berada di pihak yang berwatak angkara, tetapi akan lebih buruk lagi diri hamba apabila ingkar janji, Dalam perang nanti, hamba akan merasa bahagia apabila mati di tangan adik-adik hamba sendiri. Pertarungan yang akan terjadi nanti, bukan pertarungan karena soal pribadi, melainkan kesemua itu telah diatur oleh pihak yang berkuasa yang tidak mungkin dapat ditarik kembali," tukas Karna.

Ringkas cerita pertemuan itu berakhir dengan tidak tercapainya keinginan Kunti. Tetapi setidaknya Kunti merasa lega dengan pengakuan si anak yang hilang itu. Menurut Mahabharata baik Karna maupun Pandawa tidak saling mengetahui mereka masih saudara sekandung. Tapi setelah usai perang, barulah Pandawa mengetahui, bahwa karna adalah saudara kandungnya sendiri. Dalam perang itu, Karna gugur di tangan adiknya sendiri, Arjuna.
Baca SelengkapnyaKarna Tak Tergoyah Rayuan Ibunya

Abimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda

Adalah putra Arjuna yang lahir dari cintanya yang pertama kepada seorang wanita yang bernama Sumbadra putri Raja Basudewa dari Dewi Badraini. Abimanyu kekasihnya satria muda usia, sopan tutur bahasanya, ortmat kepada orang tua dan tak segan menolong sesamanya.

Istrinya bernama Utari putri Raja Wirata, berputra seorang bernama parikesit yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan Astina menggantikan Prabu Yudhistira. Sayang ia kurang wiwaha seperti kebanyakan anak muda. Tindakannya ceroboh menurut kata hati tak pandang bahaya mengancam akhirnya terjadi malapetaka menimpa dirinya.

Malapetaka itu terjadi ketika satria Plengkawati itu hendak menolong pasukan pandawa yang terkepung rapat balatentara Kurawa di Tegal Kuru Setra Dengan keberanian yang luar biasa ditunjang semangat yang menyala-nyala, diterjangnya barikade musuh hingga porak poranda dan pasukan Pandawa pun terbebas dari malapetaka yang nyaris menghancurkan.

Namun rupanya si anak muda itu belum merasa puas, darah mudanya bergejolak, ia terus menghajar musuh seorang diri walau sempat diperingatkan para Pandawa agar tidak meneruskan maksudnya, tapi tak digubrisnya. Ia malah terus memacu kudanya melaju menggempur musuh hingga jauh menusuk jantung pertahanan Kurawa. Akibatnya perbuatan yang berani tetapi tak berhati-hati itu berakibat fatal baginya.

Pihak Kurawa yang lebih unggul dalam pengalaman taktik strategi perang telah memasang perangkap yang disebut Durgamarungsit, yaitu sebuah perangkap semacam bubu yang apabila orang masuk ke dalamnya tak akan bisa keluar lagi. Siasat itu ditambah lagi dengan perangkap yang lebih berbahaya lagi yaitu perangkap Gelar Maha Digua semacam pintu jebakan. Di setiap balik pintu telah bersembunyi sebagai algojo. Di situlah si anak muda belia itu dibantai, dibokong dari belakang, dihimpit dari pinggir, dihadang dari depan serta dihujani berbagai rupa senjata hingga bandanya arang kerancang. Akhirnya gugur ditikam dari belakang oleh tumenggung Kelana jayadrata.

Kualitas manusia Kurawa sungguh tak berperikemanusiaan, curang dan menyalahi aturan perang. Anak yang masih ingusan diperlakukan bagai binatang buruan dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang bukan layak menjadi lawannya.

Akibatnya anak tewas secara tragis, Arjuna terpukul jiwanya. Ia tampak lesu tak bergairah hingga membuat para Pandawa prihatin mengingat Arjuna andalan dalam perang itu. Menyadari situasi yang tidak menguntungkan, Kresna memberi wejangan: "Adikku, sedih, nelangsa, sakit hati sudah lumrah dalam hidup ini. Itu pertanda kita masih memiliki perasaan. Tetapi janganlah kesedihan itu berlarut-larut hingga menghambat perjuangan yang sedang kita hadapi. Tabahkanlah hati adinda menghadapi cobaan ini. Gugurnya Abimanyu tidaklah sia-sia, dia telah membuktikan dirinya sebagai pejuang muda yang gagah perkasa pantang menyerah. Dia gugur sebagai kusuma bangsa yang akan dikenang sepanjang masa," ujarnya.

Wejangan Kresna itu memberi pengertian, bahwa apa pun yang terjadi walau pahit dirasakannya, hendaknya diterima dengan kebesaran jiwa sebagai tolak ukur atas kelebihan dan kekurangan manusia. hati Arjuna terusik mendengar wejangan itu lalu berkata: "Duh kanda Batara. hamba bukans edih karena kematian anak. Hamba hanya tak rela 'cara'nya anak itu mati. Hamba dapat merasakan seolah dia pun tak rela mati dengan cara demikian. Dia seolah tersentak diperlakukan bagai binatang buruan, dikepung dan dibantai oleh orang-orang yang hanya pantas menjadi lawan hamba. mereka orang-orang sakti tapi tak manusiawi. Karena itu hamba akan menuntut balas," ujarnya penuh rasa dendam.

Di saat itu pula emosinya sudah tak terbendung lagi dan tidak seorang pun menduga, ketika dengan tiba-tiba Arjuna berdiri tegak mengangkat senjata tinggi-tinggi seraya berkata: "Wahai bumi dan langit, wahati semua yang hidup, aku bersumpah dan minta kesaksianmu, bahwa esok hari sebelum matahari terbenam aku sudah harus membunuh si kelana Jayadrata. Jika aku gagal, aku akan masuk ke dalam Pancaka." (Pancaka api unggun yang sengaja dibuat untul lebih geni). Usai sumpah seketika terdengar suara dari empat penjuru disertai angin kencana, kilat tatit menggelegar pertanda sumpah Arjuna telah didengar dan bumi langit menjadi saksi. Gegerlah para Pandawa disertai keprihatinan menyaksikan peristiwa yang tak diduga itu.

Mengkaji sumpah Arjuna berawal dari perasaan dendam yang mendalam, memprotes perlakuan Kurawa di luar batas kemanusiaan, telah mendorong sifat keakuannya untuk berbuat sesuatu yang di luar batas kemampuannya, membunuh seseorang dalam waktu yang relatif singkat sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Itu adalah suatu kesanggupan yang tidak normal yang pasti akan menjadi beban moril yang amat berat. Akal dan pikiran sehat sudah tidak berfungsi. Tujuan akan menghabisi Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari tenggelam ke peraduannya hanya merupakan impian belaka. Kecanggihan taktik strategi pakar Kurawa terutama Danghyang Dorna yang melindungi, terlalu sulit untuk dapat ditembus hanya oleh keberanian dan kekuatan fisik semata.

Dorna telah membuat sebuah benteng yang kuat bagai baja terdiri dari ribuan balatentara Kurawa dan di situlah jayadrata disembunyikan. Meskipun beberapa lapis dapat dihancurkan, namun beratus lapis lagi masih berdiri tangguh. Sementara sang surya sudah semakin condong ke arah barat mendekati peraduannya. Untunglah Arjuna tertolong seorang pakar yang dapat mengubah suasana alam. Kresna segera menutup sinar matahari dengan senjata andalannya, Cakra hingga suasana alam seakan sedang petang. Bersoraklah kaum Kurawa kegirangan, karena Arjuna telah gagal membunuh Jayadrata dalam waktu sehari sebelum matahari terbenam.

Kegembiraan semakin menjadi tatkala dilihatnya api unggun telah menyala berkobar menerangi alam sekelilingnya. Mereka ingin menyaksikan Arjuna terjun ke dalam api unggun memenuhi sumpahnya. Tetapi tidak seorang pun yang tahu, bahwa Ajuna telah berada di atas bukit yang tak jauh dari benteng tempat Jayadrata bersembunyi dan siapdengan senjata panahnya.

Mendengar sorak sorai dan berkobarnya api unggun bagaikan api neraka yang akan melumat habis Arjuna, Jayadrata tertarik ingin menyaksikan. Kemudian ia memperlihatkan diri. Tetapi baru saja kepalanya menyembul, tak diduga sebuah anak panah melesat bagai kilat da... terpangkaslah kepalanya terpisah dari badannya larut terbawa angin dan lenyap ditelan awan. Seiring dengan itu, alam petang berubah menjadi terang benderang kembali, setelah senjata Cakra diambil oleh pemiliknya.

Gegerlah kaum Kurawa menyaksikan kejadian yang tak masuk di akal itu. Hanya Dorna yang tanggap dan mengerti seraya berucap: "Hemmm, memang segala-galanya ada di pihak Pandawa. Kemenangan akhir pun akan diraih oleh mereka," gumannya.
Baca SelengkapnyaAbimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda

Gatotkaca Rabi

Rencana pernikahan antara gatotkaca dan pergiwa putri harjuna sudah menyebar ke mana mana. persiapan di yodipati tempat werkudoro ayah bima sudah sangat lengkap. rencananya pesta akan dilakukan di 3 tempat yaitu madukoro, yodipati dan pringgondani. kabar tersebar ke hastina, tempat kediaman para wangsa kurawa. disana pertemuan agung di gelar. hadir sesepuh kurawa prabu duryodana, patih sengkuni, danyang drona. mereka membahas tentang cara agar pandawa bisa dilenyapkan. danyang drona memberi usul memecah belah pandawa dengan mengawinkan lasmana dengan pergiwa mendahului gatotkaca. dengan harapan werkudoro akan marah dan membunuh adiknya arjuna. rencana lengkap di persiapkan.

rombongan pelamar dan manten hastinapura pun berangkat. lengkap dengan pasukan dan segala macam jenis umbul umbul kebesaran dan simbol pernikahan. sesampainya di madukoro danyang drona yang berbicara dan merayu arjuna. maka dengan segala tipu muslihat liciknya ahirnya arjuna ga mampu menolak. lamaran hastinapura diterima. lesmana segera bersanding dengan pergiwa. kemudian utusan ke yodipati dikirim untuk mengirimkan kabar bahwa lamaran gatotkaca ditolak. sedangkan para eombongan penganten hastina dipersilahkan menginap di madukoro.

di yodipati punakawan datang membawa kabar penolakan lamaran. werkudoro yang tadinya tampak segar tiba tiba langsung diam dan tiduran di halaman kadipaten. dan dia berkata janagn diganggu. sementara gatotkaca tampak sangat kecewa. tapi dihibur oleh para punakawan. dan petruk berjanji akan berusaha mempertemukan cinta mereka berdua kembali. maka berangkatlah gatotkaca ke madukoro. menyelinap bersama petruk ke kaputren madukoro tempat pergiwa tinggal.

petruk bertugas menjaga diluar. sementara gatotkaca masuk ke dalam menemui pergiwa. pergiwa menyambut gatotkaca.
gatotkaca: apakah benar berita bahwa adi pergiwa akan menilah dengan kakang lesmana?
pergiwa: benar berita itu kakang gatotkaca
gatotkaca: apakah adi pergiwa menerima lamaran dr kakang lesmana?
pergiwa: tentu saja kakang gatotkaca, saya menerima dan siap melayani kakang lesmana sebagai suami.
gatotkaca: kalo begitu aku ikut bahagia, sebagai hadiah terimalah jantungku (gatotkaca menyabut keris)

kemudian gatotokaca ditomplok oleh pergiwa, dipeluk erat.
pergiwa mengaku bahwa dia cuma menguji kecintaan gatotkaca. dan menyatakan bahwa dia menerima lamaran karena ga enak dengan ayahnya. ahirnya gatotkaca dan pergiwa pun masuk kamar.

diluar lesmana datang menyambangi pergiwa calon istrinya. dihadang petruk. dan terjadi perkelahian. lesmana mengetahui gatotkaca di dalam segera memamanggil para kurawa menyerang istana kaputren. gatotkaca mengalahkan semua pasukan kurawa termasuk danyang drona.

danyang drona marah dan mengadu pada harjuna bahwa gatotkaca telah berbuat tak senonoh dengan pergiwa. arjuna marah dan segera menghadapi arjuna. arjuna mengeluarkan beberapa pusakanya sementara gatotkaca takjim tak melawan sama sekali. arjuna makin marah mengira diremehkan. petruk sangat kuatir melihat keadaan ini. apalagi arjuna mengeluarkan cemeti kyai pamuk yg dihantamkan ke tubuh gatotkaca berulang ulang.

petruk lari ke yodipati. dan membangunkan werkudoro. tapi dibangunkan berulang ulang tak bangun. petruk ingat kisah kumbokarno yg bisa bangun ketika bulu kakinya dicabut. lalu bulu kaki werkudoro dicabut. dan werkudoro bangun. diceritakan anaknya sedang dihajar arjuna. werkudoro tenang saja sambil bilang, ah itu tugas arjuna sebagai paman untuk mengajari gatotkaca tentang kebenaran. petruk jadi bingung, lalu dia bilang gatotkaca bisa mati, werkudoro bilang biar saja, ngga masalah.

petruk ga hilang akal menghadapi ketenangan werkudoro. dia bilang kalo harjuna mengumpat umpat dan menjelekan werkudoro ketika menyiksa gatotkaca. langsung werkudoro sangking marahnya segera berlari ke madukoro. petruk ditabrak sampai terjengkang. sampe madukoro werkudoro mengamuk dan menghajar arjuna sejadi jadinya. gantian arjuna yang harus lari ke rombongan ngamarta yg baru datang.

untung dilerai kresna dan puntadewa. ahirnya dijelaskan mengapa petruk melakukan kebohongan, semua demi gatotkaca. dan ahirnya werkudoro berdamai dengan arjuna. dan arjuna menyadari kesalahanya. pergiwa ditanya apakah bersedia menikah dengan gatotkaca. pergiwa menerima. ahirnya gatotkaca pun menikah dengan pergiwa. rombongan hastina dihajar werkudoro dan balik dengan tangan hampa ke hastinapura.

catatan: versi diatas adalah versi pernikahan gatotkaca tanpa menyertakan adegan antasena cari bapa. dlm versi lain diceritakan saat gatotkaca di kaputren muncul antasena yg nyari werkudoro ayahnya. petruk mengaku jd werkudoro. dan ahirnya antasena membantu petruk sehingga semua jagoan hastina kalah. bahkan werkudoro dilawan dan kalah. akhirnya antredja yg menyadarkan adiknya itu bahwa yg sebenernya werkudoro itu yg mana. ahirnya sama gatotkaca nikah dan antasena sujud kepada werkudoro ayahnya.
Baca SelengkapnyaGatotkaca Rabi

Antareja Takon Bapa

Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu Duryudana, oleh Begawan Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk membinasakan Pandawa. Setelah semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu Nagabagendo menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan R. Udawa kesatria dari Dwarawati.

Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang dengan Prabu Nagabagendo dam kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R. Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki jatuh di negeri Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta, segera melaporkan akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa, belum selesai melaporkan kejadian yang dialami pihak Pandawa, datang Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian Prabu Nagabagendo.

Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Nagabagendo adalah kesatria yang berkulit sisik seperti ular, maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang dimaksud. Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya, Sang Hyang Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan dimana berada.

Oleh Sang Hyang Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati. Dengan diiringi kakeknya, R. Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk melawan Prabu Nagabagendo. Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara akan mengakui sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R. Pudak Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh kakeknya R. Pudak Kencana dapat dihidupkan kembali dengan air kehidupan yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi kesaktian Ajian Upas Onto.

Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa beserta putra-putranya.

Dengan kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram dan damai serta R.Pudak Kencana menjadi bagian keluarga besar Pandawa dan beralih nama R.Antareja.
Baca SelengkapnyaAntareja Takon Bapa

Perang Wirata - Hastina

PRABU BASUPARICARA MENINGGALKAN KERAJAAN WIRATA

 Prabu Basuparicara di Kerajaan Wirata sedang berduka karena sang permaisuri, yaitu Dewi Yukti meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Wrehadrata. Ia sangat sedih karena dua kali menikah selalu saja kehilangan istri. Yang pertama adalah Dewi Subakti yang meninggal karena sakit, dan yang kedua adalah Dewi Yukti yang meninggal setelah melahirkan. Pada suatu malam datang Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menyampaikan petunjuk bahwa Prabu Basuparicara harus pergi meninggalkan istana Wirata dan menjalani hidup sebagai petapa di hilir Sungai Jamuna. Dengan cara demikian, Prabu Basuparicara akan bertemu jodoh baru, yang kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Setelah mendapatkan petunjuk demikian, Prabu Basuparicara pun menitipkan Kerajaan Wirata kepada adiknya, yaitu Raden Basuketu, kemudian ia berangkat meninggalkan istana menuju Sungai Jamuna.

 RADEN BASUKETU MENDAPAT SURAT PANGGILAN DARI PRABU PRATIPA

 Pada suatu hari, Raden Basuketu menerima kedatangan Patih Basusara dari Kerajaan Hastina (yang dulu bernama Kerajaan Gajahoya) yang menyampaikan surat dari rajanya, yaitu Prabu Pratipa. Melalui surat itu, Prabu Pratipa menyatakan dirinya kini merdeka dan memakai gelar baru, yaitu Prabu Dewamurti serta tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata. Secara silsilah maupun secara usia, Prabu Dewamurti lebih tua daripada Prabu Basuparicara sehingga ia merasa berhak memanggil raja Wirata untuk datang menghadap kepadanya di Kerajaan Hastina. Setelah membaca surat tersebut, Raden Basuketu berusaha menjawab dengan tenang bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana Wirata. Sebagai wakil raja, ia merasa tidak berwenang menanggapi panggilan Prabu Pratipa. Ia pun menulis surat balasan dan mempersilakan Patih Basusara kembali ke Kerajaan Hastina.

PRABU DEWAMURTI BERSIAP MENYERANG KERAJAAN WIRATA

Prabu Dewamurti di Kerajaan Hastina dihadap ketiga putranya yang bernama Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu. Hadir pula sang mertua, yaitu Prabu Bahlikasura raja Siwandapura beserta Patih Wikuntana. Prabu Bahlikasura datang untuk menanyakan niat Prabu Dewamurti yang kabarnya hendak menaklukkan Kerajaan Wirata. Jika benar demikian, ia bersedia membantu dengan segenap kemampuan. Raden Dewapi, Raden Bahlika, dan Raden Santanu bertanya mengapa sang ayah bermusuhan dengan Kerajaan Wirata, padahal secara silisilah memiliki leluhur yang sama. Prabu Dewamurti pun bercerita bahwa pada mulanya Kerajaan Wirata dipimpin kakeknya, yaitu Prabu Basumurti. Setelah Prabu Basumurti meninggal, takhta seharusnya jatuh kepada putra tunggalnya, yaitu Prabu Hastimurti.

Akan tetapi, Prabu Hastimurti sudah menjadi raja bawahan di Gajahoya, sehingga yang dilantik sebagai raja Wirata adalah Prabu Basukesti, adik Prabu Basumurti. Setelah Prabu Hastimurti meninggal, takhta Gajahoya kemudian diwarisi Prabu Pratipa. Sementara itu, Prabu Basukesti mewariskan takhta Wirata kepada putranya, yaitu Prabu Basukiswara. Usia Prabu Pratipa lebih tua daripada Prabu Basukiswara, tetapi karena silsilah, ia harus memanggil “paman” kepadanya. Selain itu, Prabu Pratipa juga menyimpan dendam karena pamannya dari pihak ibu, yaitu Resi Basundara, pernah diusir oleh Prabu Basukiswara karena peristiwa hilangnya Dewi Yukti yang diculik pelangi jadi-jadian. Prabu Pratipa lalu membangun istana baru di Hutan Kurujanggala yang lebih megah daripada Gajahoya.

Istana baru itu diberi nama Hastina. Nama ini sengaja dipakai untuk mengenang ayahnya, yaitu Prabu Hastimurti. Sementara itu, yang menjadi raja Wirata saat ini adalah Raden Basuketi, putra sulung Prabu Basukiswara yang bergelar Prabu Basuparicara. Karena usia dan silsilah Prabu Pratipa lebih tua, maka ia tidak sudi menjadi bawahan Prabu Basuparicara dan menyatakan Hastina sebagai kerajaan merdeka. Ia pun mengganti gelarnya menjadi Prabu Dewamurti. Setelah mendengar cerita tersebut, ketiga putra Prabu Dewamurti pun mengutarakan pendapat yang berbeda-beda.

Raden Dewapi mendukung Kerajaan Hastina merdeka, tetapi tidak setuju jika ayahnya memerangi raja Wirata karena masih saudara. Raden Bahlika sepenuhnya mendukung Hastina merdeka sekaligus Wirata juga harus ditaklukkan. Sementara itu, Raden Santanu menyarankan agar ayahnya tetap menjaga perdamaian dengan pihak Wirata, dan tidak perlu memerdekakan diri. Raden Santanu juga mengingatkan tentang Resi Basundara yang telah meninggal dunia akibat terlalu memikirkan kemungkinan terjadinya perang saudara antara Wirata dan Hastina. Prabu Dewamurti tersinggung mendengar pendapat putra bungsunya itu. Ia pun memarahi Raden Santanu habis-habisan. Pada saat itulah datang Patih Basusara yang menyampaikan surat balasan dari Kerajaan Wirata, bahwa saat ini Prabu Basuparicara sedang bepergian meninggalkan istana, sehingga wakilnya, yaitu Raden Basuketu tidak berani memenuhi panggilan Prabu Pratipa.

 Prabu Dewamurti tersinggung membaca surat balasan tersebut, apalagi Raden Basuketu tidak mengakui gelar barunya. Kini tekadnya telah bulat untuk menyerang dan menaklukkan Kerajaan Wirata. Ia pun memerintahkan Patih Basusara untuk mengumpulkan seluruh pasukan Hastina yang ditambah dengan bala bantuan dari Kerajaan Siwandapura.

 RADEN SANTANU MELAPORKAN AYAHNYA KEPADA PIHAK WIRATA

Sementara itu, Raden Basuketu di Kerajaan Wirata sedang berunding dengan Patih Wasita, Arya Manungkara, Arya Srimadewa, serta para punggawa lainnya. Mereka membicarakan tentang sikap Prabu Dewamurti yang menyatakan Kerajaan Hastina telah merdeka dan tidak mau lagi menjadi bawahan Wirata. Tiba-tiba Raden Santanu datang menghadap dan melaporkan rencana ayahnya yang hendak menyerang Kerajaan Wirata dengan mengerahkan gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura. Raden Basuketu terkejut sekaligus marah mendengar laporan ini. Ia pun berterima kasih kepada Raden Santanu dan segera menyebarkan surat kepada Kerajaan Mandraka dan Gandaradesa supaya mengirimkan bala bantuan untuk menghadapi serangan besar-besaran Prabu Dewamurti tersebut.

 RESI MAHOSADA BERTAPA DI HILIR SUNGAI JAMUNA

Tersebutlah seorang petapa bernama Resi Mahosada yang sedang bersamadi di hilir Sungai Jamuna. Pada suatu hari ia didatangi pendeta bernama Resi Nirmalacipta dari Padepokan Giripurna. Resi Nirmalacipta ini mengaku telah kehilangan putrinya yang bernama Endang Adrika, yang jatuh tercebur di Sungai Jamuna kemudian hanyut terbawa arus. Menurut petunjuk Dewata, Resi Nirmalacipta harus meminta bantuan Resi Mahosada yang saat ini sedang bertapa di hilir Sungai Jamuna. Resi Mahosada menyanggupi permintaan Resi Nirmalacipta tersebut. Ia lalu mengheningkan cipta memohon kekuatan dari Dewata untuk menemukan Endang Adrika. Secara ajaib, sepasang lengan Resi Mahosada bisa menjulur sangat panjang untuk digunakannya menyelami dan mengaduk-aduk Sungai Jamuna. Beberapa saat kemudian, kedua lengannya itu kembali ke ukuran semula sambil menggenggam seekor ikan emas betina. Resi Mahosada lalu mengheningkan cipta meruwat ikan emas tersebut. Secara ajaib, wujud ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik, yang tidak lain adalah Endang Adrika, putri Resi Nirmalacipta.

Resi Nirmalacipta sangat bahagia dan memeluk putrinya yang telah ditemukan tersebut. Endang Adrika pun bercerita bahwa ketika sedang mengambil air, kakinya terpeleset dan tubuhnya tercebur ke dalam Sungai Jamuna. Entah bagaimana, tiba-tiba saja wujudnya berubah menjadi seekor ikan emas betina. Kini, berkat bantuan Resi Mahosada, ia pun terbebas dari kutukan dan kembali lagi menjadi manusia. Pada saat itulah datang Batara Narada yang menyampaikan perintah Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka supaya Resi Nirmalacipta menikahkan Endang Adrika dengan Resi Mahosada, yang tidak lain adalah penyamaran Prabu Basuparicara raja Wirata. Batara Narada berpesan pula bahwa dari perkawinan itu kelak akan lahir raja-raja Tanah Jawa. Batara Narada kemudian menyampaikan petunjuk kedua, bahwa Kerajaan Wirata saat ini akan berperang dengan Kerajaan Hastina. Akan tetapi, Prabu Basuparicara tidak perlu khawatir karena Raden Basuketu mampu mengatasi masalah ini. Setelah dirasa cukup, Batara Narada pun undur diri kembali ke kahyangan. Resi Nirmalacipta sangat berkenan menerima perintah Dewata. Ia pun mengundang Prabu Basuparicara singgah di Padepokan Giripurna. Prabu Basuparicara menolak secara halus karena saat ini ia harus segera kembali ke Kerajaan Wirata yang sedang dalam keadaan genting. 

PRABU DEWAMURTI GUGUR DALAM PEPERANGAN

Sementara itu, Prabu Dewamurti yang memimpin langsung gabungan pasukan Hastina dan Siwandapura telah tiba di wilayah Kerajaan Wirata. Kedatangan mereka disambut oleh gabungan pasukan Wirata, Mandraka, dan Gandaradesa yang dipimpin langsung oleh Raden Basuketu. Perang besar pun terjadi. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Setelah sehari penuh bertempur, Prabu Bahlikasura raja Siwandapura tewas di tangan Raden Basuketu yang bersenjatakan pedang Candrahasa, warisan Srimaharaja Purwacandra di zaman dulu. Melihat mertuanya terbunuh, Prabu Dewamurti sangat murka dan menerjang Raden Basuketu. Pertarungan sengit terjadi antara mereka. Raden Basuketu yang lebih muda dan kalah pengalaman terdesak oleh kesaktian Prabu Dewamurti. Akan tetapi, kemenangan itu membuat Prabu Dewamurti lengah, sehingga lehernya pun putus terpenggal pedang Candrahasa di tangan Raden Basuketu. Melihat ayah dan kakeknya tewas, Raden Bahlika bergegas melarikan diri bersama Patih Wikuntana menuju Kerajaan Siwandapura di tanah seberang, sedangkan Raden Dewapi dan Patih Basusara menyerahkan diri.

RADEN SANTANU DILANTIK MENJADI RAJA HASTINA

Prabu Basuparicara dan istri barunya, yaitu Endang Adrika, telah tiba di Kerajaan Wirata. Raden Basuketu menyambut kedatangan mereka dan melaporkan segala yang telah terjadi. Prabu Basuparicara sangat sedih mendengarnya, apalagi peristiwa itu harus berakhir dengan kematian Prabu Dewamurti yang masih kerabat sendiri. Prabu Basuparicara lalu memanggil dua putra mendiang Prabu Dewamurti yang tersisa, yaitu Raden Dewapi dan Raden Santanu untuk menentukan siapa di antara mereka yang harus mewarisi Kerajaan Hastina. Sebagai putra sulung, tentunya Raden Dewapi lebih berhak atas takhta ayahnya. Akan tetapi, Raden Santanu memberi tahu Prabu Basuparicara bahwa kakaknya itu menderita penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh dan bisa menular. Seorang raja yang memiliki penyakit seperti ini tentunya akan sangat berbahaya dan bisa kehilangan wibawa di mata rakyat.

Raden Dewapi tersinggung mendengar ucapan adiknya. Ia mengakui bahwa dirinya memang memiliki penyakit kulit yang kadang-kadang kambuh. Akan tetapi, cara bicara Raden Santanu sangat menyakitkan hati. Ditambah lagi perbuatan Raden Santanu yang telah mengkhianati ayah sendiri, jelas ini sangat durhaka. Raden Dewapi pun merelakan takhta Kerajaan Hastina diwarisi Raden Santanu, namun ia juga mengutuk adiknya itu kelak hanya akan memiliki anak saja, tanpa memiliki cucu, sehingga takhta akan jatuh ke tangan orang luar. Setelah mengucapkan kutukan tersebut, Raden Dewapi bergegas pergi meninggalkan istana Wirata untuk bertapa di dalam hutan. Raden Santanu sangat prihatin dan ia pun menjelaskan kepada Prabu Basuparicara bahwa dirinya sama sekali tidak ada niat durhaka kepada orang tua. Tujuannya melapor ke Wirata adalah untuk menyadarkan ayahnya agar jangan memberontak. Tak disangka, sang ayah justru terbunuh dalam pertempuran tersebut. Prabu Basuparicara memercayai penuturan Raden Santanu.

Ia lalu mengangkat putra bungsu mendiang Prabu Dewamurti itu sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Santanu, atau lengkapnya Prabu Santanumurti. Adapun jabatan menteri utama tetap dipegang oleh Patih Basusara. Prabu Basuparicara sangat menyesali kematian Prabu Pratipa Dewamurti yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hanya karena berebut wibawa dan kuasa, mengapa sesama saudara harus saling membunuh? Untuk itu, Prabu Basuparicara pun menyatakan mulai hari ini Kerajaan Hastina tidak lagi menjadi bawahan Kerajaan Wirata, dan Prabu Santanu dianggap sebagai sekutu yang sederajat. Prabu Santanu sangat berterima kasih atas kepercayaan ini. Meskipun telah merdeka, ia menyatakan tetap menganggap raja Wirata sebagai sesepuh yang akan selalu dihormati layaknya pengganti orang tua. Sementara itu, Prabu Basuparicara yang pernah mendapatkan pengalaman ajaib yaitu berlengan sangat panjang, kini mendapatkan gelar baru pula, yaitu Prabu Dirgabahu.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra dan kitab Mahabharata karya Resi Wyasa
Baca SelengkapnyaPerang Wirata - Hastina

Popular Posts

Contact

Nama

Email *

Pesan *